Inovasi Santri Ngelmu

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah walhamdulillah wassholatu wassalaamu 'ala rosulillah...
Kawan...jangan capek ya!
Wassalam...

Laman

Minggu, 06 September 2009

Selimut dari Kekasih Kisah Cinta Dibalik Qasidah Burdah

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak


Qoshidah itu terus bergema, melantunkan senandung kerinduan dan pujaan yang mengingatkan pada kekasih yang berada di daerah Dzi Salam. Tak henti-henti semua muslimin di seluruh penjuru dunia menjadikannya sebagai luapan rintihan karena rindu akan pertemuan yang diinginkan.
مَوْلَيَ صَـلِّ وَ سَـلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ * لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
Wahai Junjunganku, selalu limpahkan sholawat dan salam kepada kekasih-Mu, sebaik-baik makhluk secara keseluruhan.
Dialah kekasih yang diharapkan pertolongannya, untuk semua ketakutan yang menimpa.

Yah, qoshidah Burdah memang selalu didengungkan oleh para pecinta di setiap saat. Apalagi di Indonesia, setiap waktu sholat datang, qoshidah ini selalu bergema. Qoshidah ini memang diliputi barokah, sehingga tak lekang digerus zaman. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya pengarang dan asal mula munculnya qoshidah ini?
Nama pengarang qoshidah ini adalah Abu Abdillah Syarofuddin; Muhammad bin Sa’iid as Shinhajiy (w 696 H). Beliau dilahirkan di Dilaash, namun tumbuh berkembang di Bushir (sehingga lebih dikenal dengan nama Imam al Bushiri). Beliau memulai hidupnya dengan menghafalkan al Qur”an, belajar ilmu agama dan bahasa Arab.
Perasaan beliau selalu dipenuhi dengan kecintaan kepada Rosululloh , iman dan keyakinannya teguh. Dalam syair-syair qoshidahnya, kebanyakan tertuang pujian kepada Khoirul Bariyyah . Sedangkan qoshidahnya yang paling agung adalah Burdatul Madiih, belum ada seorang pun yang mendahuluinya dalam mengarang qoshidah seperti ini, dan hingga kini belum ada yang sanggup menandinginya. Betapapun banyak qoshidah yang dikarang untuk menyerupainya, disusun dengan mengikuti metodenya, namun tak bisa menjangkau tingkatan keindahan qoshidah Burdah. Hingga Syeikh Ahmad Syauqi Bik (wafat 1351 H/ 1932 M) yang digelari oleh para ulama sebagai Amirusy Syu’aro (pemimpin para penyair), mengatakan dalam qoshidahnya, Nahjul Burdah:
Para pemuja dan pemilik rindu mengikuti pengarang al Burdah (al Bushiriy) yang luas dan lebih terdahulu.
Pemujinya memiliki cinta dan rindu yang murni kepadamu, dan orang yang benar cintanya mendikte orang yang benar omongannya.
Alloh menyaksikan bahwa aku tak dapat menandinginya (al Bushiriy), siapakah yang dapat menandingi luapan banjir bandang ‘Arim?
Namun sesungguhnya aku termasuk bagian orang yang memiliki keinginan (ghibtoh), dan orang yang ingin seperti kekasih-Mu (Imam al Bushiriy, dalam memuji Rosululloh , red), tidak pantas untuk dicela dan dikecam.

Imam Ibnu Hajar mengatakan,: “Al Bushiriy merupakan keajaiban yang ditampakkan Alloh dalam susunan prosa dan syair. Andaikan ia tidak memiliki karya kecuali qoshidahnya yang terkenal dengan nama al Burdah, maka itu sudah cukup mengangkat kemegahanya. Begitu pula qoshidah Hamaziyah-nya (qoshidah yang diakhiri dengan huruf hamzah, red) yang memukau. Kemasyhuran al Burdah semakin bertambah, hingga orang-orang selalu membacanya di rumah-rumah dan masjid-masjid.”
Sedangkan Dr. Su’aad Mahir berkata,: “Pada awal kehidupannya, al Bushiriy memegang dan mengajar menulis pada beberapa kelompok di daerah Bilbis, kemudian dia meninggalkan tugas-tugas pemerintahan dan kesenangan kehidupan dunia, dan menyendiri dalam kehidupan tasawuf dan menghabiskan waktunya untuk beribadah. Lalu dia pergi ke Iskandariyah untuk menjadi murid al Quthb Abul ‘Abbaas al Mursiy . ‘Aliy Mubarok berkata,: ‘Al Bushiriy dan Ibnu ‘Athoillah as Sakandariy adalah dua murid dari Abul ‘Abbaas. Al Bushiriy dianugerahi keunggulan dalam bentuk syair, sedangkan Ibnu ‘Athoillah (pengarang al Hikam) dianugerahi keunggulan dalam bentuk prosa (natsar).”
Al Bushiriy telah melakukan mulazamah dan belajar kepada gurunya sehingga tampaklah barokah pada dirinya, dalam agama, ilmu, wara’, dan kewalian. Setelah itu dia memilih sistem yang lain dalam mengarang syairnya. Maka jadilah syairnya berisi tasawuf dan pujian ke hadirat Rosululloh , dan dia pun memurnikan cintanya kepada Alloh  dan Rosul-Nya.
Asal muasal dikarangnya al Burdah, menurut Imam al Muqriziy, suatu waktu Imam al Bushiri tertimpa penyakit stroke, setengah badannya tak dapat digerakkan. Penyakit ini berlangsung lama, hingga di atas kasur pun beliau tidak bisa membalikkan bagian badannya yang kanan ke bagian yang kiri. Ketika sakit itu semakin memberatkannya, beliau pun akhirnya berkeingingan keras untuk membuat qoshidah yang berisi pujian kepada Rosululloh , dan meminta pertolongan kepada Alloh lewat qoshidah tersebut, dengan harapan Alloh akan menyelamatkannya dari penyakit yang menimpanya. Maka beliau pun merangkai qoshidahnya yang terkenal dengan nama al Burdah, yang awalnya:
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
Apakah karena mengingat kekasih y ang berada di Dzi Salam, engkau mencampur air mata yang mengalir dari kelopak dengan darah?
Beliau pun melantunkan qoshidah itu berulang kali, dan meminta pertolongan kepada Alloh dengan perantaran Rosululloh  untuk menghilangkan kesedihannya. Beliau banyak menangis dan berdo”a. Hingga suatu saat, ketika beliau tertidur, beliau bermimpi bertemu Nabi kita, Muhammad  , seakan-akan dengan tangannya yang mulia, beliau  mengusap bagain tubuh Imam al Bushiri yang sakit. Kemudian Rosululloh  melemparkan burdah (selimut lorek, red) kepadanya. Di saat itu juga beliau pun terbangun, dan ternyata beliau telah sembuh seketika.
Akhirnya beliau pun keluar dari rumahnya. Dan pada mulanya apa yang terjadi antara beliau dan Alloh  adalah suatu rahasia yang tiada diketahui seorang pun. Maka ketika beliau tengah keluar rumah, sebagian fuqoro (wali) menemui beliau dan berkata,: “Aku ingin engkau memberiku qoshidah yang kau gunakan untuk memuji Rosulalloh .” “Qoshidah mana yang engkau inginkan? Karena aku memuji Rosululloh  dengan banyak qoshidah”, kata beliau membalik pertanyaan. Faqir itu pun menjawab,: “Qoshidah yang kau ciptakan disaat sakit, yang awalnya:
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
Demi Alloh, tadi malam kami telah mendengarnya dilantunkan di hadapan Rosululloh  dan beliau menggoyang-nggoyangkan tubuh beliau (karena terhanyut, red) ketika mendengarnya, seperti condongnya batang kurma (ketika tertiup angin, red), aku pun takjub. Beliau juga melemparkan burdah kepada orang yang melantunkannya.” Masya Alloh la quwwata illa billah.
Akhirnya, Imam al Bushiriy memberikan qoshidah itu kepadanya. Mimpi itu pun tersebar di Mesir, hingga raja Bahauddin ‘Aliy bin Muhammad bin Hana mendengarnya. Akhirnya beliau bersumpah untuk mendengarkan qosidah itu dengan berdiri dan kepala terbuka. Maka beliau pun akhirnya mendengarkan qoshidah itu dengan keadaan demikian, beliau kagum akan qoshidah itu, dan beliau sekeluarga mencari (ngalap, jw) barokah dengan mendengarkannya.
Berita itu pun santer di halayak umum. Bertepatan dengan itu, Sa’duddin al Faariqiy, pegawai Bahauddin Aliy tertimpa radang mata yang parah hingga mendekati kebutaan. Kemudian di kala tidur, dia bermimpi seakan-akan ada orang yang mengatakan kepadanya,: “Pergilah kepada raja Bahauddin, dan ambillah selimut lorek (burdah) darinya, lalu taruhlah pada kedua matamu, niscaya akan sembuh seketika”.
Ketika dia mendatangi raja dan menceritakan mimpinya, Bahauddin ‘Aliy pun berkata,: “Demi Alloh, aku tak memiliki peninggalah Nabi Muhammad  yang berupa selimut.” Beliau berpikir sejenak, kemudian berkata,: “Mungkin yang dimaksud adalah qoshidah Burdah, karena kami mengalap barokah dengannya.” Beliau akhirnya memerintahkan budaknya yang bernama Yaqut untuk berkata kepada pembantu,: “Bukalah kotak penyimpanan peninggalan (atsar) Nabi Muhammad , dan keluarkan qoshidah itu dari bejana minyak Ambar, dan bawalah datang kemari.” Ketika qoshidah itu telah tiba, al Faruqiy menaruhnya pada kedua matanya dan qoshidah itu dibacakan, akhirnya kedua matanya pun sembuh.
Semenjak itu qoshidah ini dinamakan al Burdah. Dan qoshidah tersebut sangat terkenal di negara Mesir, Syam, Maghrib, Hijaz, dan Yaman. Orang-orang pun betambah mengagungkannya, hingga menjadikannya sebagai jimat yang digantungkan di kepala. Dan mereka beranggapan bahwa qoshidah ini memiliki kasiat yang banyak sekali, dan dugaan itu masih berlangsung hingga hari ini. Hadza min fadhli Robbinaa.
Semoga Alloh selalu mengampuni, merahmati, dan meninggikan derajat Imam al Bushiri di surga. Memasukkan niat, amal, dan tujuan kita dalam niat, amal. Serta tujuan beliau. Dan memberikan asror, anwar, ilmu-ilmu beliau dan qoshidah Burdah kepada kita semua, bi haqqi Sayyidina Rosulillah Muhammad bin ‘Abdillah , amin....

صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنْتَ عُمْدَتِيْ فِيْ شِدَّتِيْ فَأَغِثْنِيْ

Transleter: ‘Aam Muhammad Fatih Nabhani
Sumber: Hizbul Istighotsaat, Syaikh Yusuf bin Isma’il an Nabhaniy,
tahqiq: Muhammad Kholid Tsabit, (hal. 167-170), Daarul Kutub al Ilmiyah, Beirut Lebanon.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Izin copas
بارك الله فيك