Oleh : Muhammad Hifny Mubarak
Tidak bisa dipungkiri bahwa anak merupakan aset berharga bagi kedua orang tuanya. Dan sesuatu yang membanggakan pula. Sehingga akan timbul kerisauhan di hati sepasang suami istri, bila dalam perjalanan rumah tangga mereka belum juga dikaruniai seorang buah hati. Maha benar Allah yang berfirman :
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”
Ya, seorang insan akan berbangga jika ia dikaruniai harta yang melimpah serta keturunan yang banyak. Namun Islam tidak datang untuk melenakan manusia di kehidupan dunia, tapi agama Allah ini membimbing dan mengarahkan kita untuk memanajemen apa yang telah diberikan oleh Allah, agar selalu mengarah kepada kehidupan akhirat yang kekal. Karenanya, Allah pun melanjutkan ayat di atas dengan pesan indah :
وَاْلبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi soleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi pengharapan” ( Al-Kahfi/18:46).
Sungguh indah bila kita mau merenungkan. Pahala yang besar dan pengharapan yang baik di sisi Allah tentunya lebih membanggakan daripada sekedar perhiasan hidup di dunia. Bayangkan! Betapa berbahagianya seorang insan, bila di dalam kuburnya kelak, ada pahala yang terus mengalir untuknya karena harta yang diberikan Allah untuknya tatkala hidup, digunakan untuk berderma dan hal-hal yang baik lainnya. Begitu pula bila anak kandungnya tumbuh menjadi seorang sholih yang selalu berguna bagi kedua orang tuanya.
Dan salah satu cara untuk mendidik anak kita menjadi seorang yang sholih adalah dengan mengajarinya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Namun poin ini justru luput dari perhatian orang tua saat ini. Mereka lebih mementingkan pendidikan formal untuk anak mereka dengan alasan agar buah hatinya kelak bisa hidup mapan. Ataupun bila mereka mendaftarkan anak mereka ke TPQ atau Madrasah Diniyah, pengajaran dan pendidikan mereka langsung saja dibebankan di atas pundak-pundak para ustadz tanpa mau tahu bagaimana perkembangan buah hatinya sendiri, hanya segelintir orang tua saja yang mau peduli.
Padahal bila kita mau mengerti, sebenarnya belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang sulit bagi anak-anak kita. Berbagai metode telah dimunculkan dan tersebar di mana-mana untuk mempermudah pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi anak-anak, begitu pula dengan menghafal Al-Qur’an.
Sungguh ironis sekali, karena sekarang sering kita temukan anak-anak seumuran TK atau SD lebih fasih mengucapkan kalimat bahasa Inggris sedangkan untuk membaca Al-Qur’an mereka terbata-bata. Pun di sana sini sering kita menemukan anak-anak yang dengan lancarnya menghafal dan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang sering ditayangkan di TV, padahal itu sangat tidak pantas bagi mereka, sedangkan untuk hafalan Al-Qur’an? Ayat kursi entah hafal atau tidak?
Padahal Allah telah menyiapkan pahala besar bagi orang yang mau menghafal Al-Qur’an, Rosulullah bersabda:
يَجِيْءُ صَاحِبُ الْقُرْأنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ إِرْضَ عَنْهُ، فَيُرْضَى عَنْهُ. فَيُقَالُ لَهُ: إِقْرَأْ وَارْقَأْ، وَيُزَادُ بِكُلِّ أيَةٍ حَسَنَةً. (رواه الترمذي)
“Penghafal Al-Qur’an datang (menghadap Allah) pada hari Kiamat, kemudian Al-Qur’an berucap: “Wahai Tuhanku, mohon berilah dia perhiasan, lalu dia diberi mahkota kemuliaan. Lalu dia berkata: "Tuhanku, tambahilah dia", kemudian ia diberi pakaian kemuliaan. Al-Qur’an pun kembali meminta; “Ya Tuhanku Ridhoilah dia!” akhirnya Allah pun meridhoinya. Kemudian dikatakan padanya: “Bacalah ayat Al-Qur’an (yang kau hafal) dan naiklah”, dan ditambahkan satu kebaikan bagi setiap ayat (yang dibaca)". HR. At-Tirmidzi
Indahnya, keutamaan yang luar biasa ini tidak hanya didapat sang penghafal saja, bahkan orang tua yang melahirkannya akan turut mendapat anugerah yang berlimpah dan bakal terangkat derajatnya. Di hadits yang lain Rosulullah menerangkan fakta ini.
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ، أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُوْرٍ، ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ. وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ، لاَ تَقُوْمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُوْلاَنِ: بِمَ كُسَيْنَا هذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْأَنَ. (رواه الحاكم)
“Barang siapa belajar Al-Qur’an, mengajarkan dan mengamalkannya, kelak akan dikenakan padanya mahkota yang bercahaya di hari kiamat. Sinarnya menyamai terang matahari dan kedua orang tuanya pun diberi dua pakaian yang tidak dapat dibandingi dengan gemerlap dunia. Mereka berdua kemudian bertanya keheranan: “Karena amalan apakah kami berdua berhak diberi pakaian ini? lalu dikatakan: “Karena buah hati kalian telah belajar, mengajar dan mengamalkan Al-Qur’an” (HR. Al-Hakim)
Ah, alangkah indahnya bila semua orang tua mau memberi perhatian lebih bagi pelajaran Al-Qur’an untuk anaknya dan sang anak pun memiliki semangat untuk belajar kitab Tuhannya. Imam Asy-Syatibi berkata :
فَـيَا أَيُّهَا الْقَارِيْ بِهِ مُتَمَسِّكَا * مُجِلاًّ لَهُ فِيْ كُلِّ حَالٍ مُـبَجِّلاَ
هَنِيْـئًا مَرِيْـئًا وَالِدَاكَ عَلَيْهِمَا * مَلاَبِسُ أَنْوَارٍ مِنَ التَّاجِ وَالْحُلَى
فَمَا ظَنُّكُمْ بِالنَّجْلِ عِنْدَ جَزَائِهِ * أُولئِكَ أَهْلُ اللهِ وَالصَّفْوَةُ الْمَلاَ
Duhai pembaca Al-Qur’an yang berpegang teguh dengannya
Yang mengagungkannya di setiap situasi dengan sepenuh penghormatan
Betapa nikmat dan bahagia, kedua orang tuamu kan dianugerahi pakaian dan mahkota yang bercahaya
Lalu bagaimana anggapanmu bagi sang buah hati ketika tiba hari pembalasan amal? Merekalah Ahlullah dan makhluk Allah yang terpilih.
Sedangkan bagi orang yang tiada perhatian dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an, Rosulullah memberikan perumpamaan yang sungguh sangat penting untuk kita renungkan, Rosulullah bersabda :
إِنَّ الَّذِيْنَ لَيْسَ فِيْ جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْأَنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ (رواه الترمذي)
“Sesungguhnya orang yang tidak memiliki hafalan Al-Qur’an sedikitpun, mereka bagaikan rumah yang reot" (HR At-Turmudzi)
Setelah tahu berbagai teguran di atas, masihkah kita tidak mau tahu akan pembelajaran Al-Qur’an anak kita? Dan membiarkan mereka lebih dekat dengan budaya barat dan semakin jauh dengan budaya Islam dan bimbingan Al-Qur’an yang penuh keagungan? Sudah saatnya kita berikan semangat pada anak-anak kita untuk kembali merangkul Al-Qur’an dan mengembalikan kejayaan Islam.
شَـبَابَنَا قَدْ أنَ أَنْ تَعُوْدُوْا * لِوَاحَةِ اْلإِيْمَانِ كَيْ تَسُوْدُوْا
شَـبَابَنَا لاَ خَوْفَ يَعْتَرِيْنَا * لاَ خَوْفَ وَالْقُرْأنُ فِيْ أَيْدِيْنَا
قُرْأنُـنَا نُوْرٌ لَنَا يَـقِيْـنًا * فَإِنْ تَمَسَّكْـنَا بِهِ هُدِيْـنَا
Duhai generasi mudaku, telah tiba waktumu untuk kembali kepada petunjuk keimanan
agar engkau dapat kembali memimpin Islam.
Wahai generasi mudaku, tiada ketakutan yang akan menyerang kita,
tidak ada ketakutan bila Al-Qur’an berada di genggaman tangan kita
Sungguh Al-Qur’an adalah cahaya bagi kita, bila kita berpegang teguh
dengannya kita akan diarahkan menuju petunjuk kebenaran.
alalmadinah@yahoo.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar