Inovasi Santri Ngelmu

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah walhamdulillah wassholatu wassalaamu 'ala rosulillah...
Kawan...jangan capek ya!
Wassalam...

Laman

Senin, 05 Oktober 2009

Ibrah wa Qudwah....

Muhammad Iqbal
Pujangga besar islam
Muhammad Iqbal adalah tokoh muslim abad XX yangsangat terkenal dan berjasa di berbagai bidang, baik politik, filsafat, sastra maupun agama. Iqbal adalah pakar ilmu filsafat barat. Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 februari 1873 di sialkot. Nenek moyangnya berasal dari lembah khasmir. Sebagai anak seorang sufi, Iqbal di didik secara Islam oleh sang ayah. Saat itu, adalah salah satu kegemaranynya adalah membaca dan menghafalal al-Qur'an. Ayahnya pernah berkata, "jika kamu ingin memahami Al-Qur'an bacalah seolah kitab itu diturunkan untukmu." Di kemudian hari, Iqbal selalu menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar pijakan dalam berpikir, bertindak, dan berkarya. Selain sang ayah, Iqbal juga mmpunyai seorang guru lain, maulana Mir Hasan. Di kemudian hari, pengaruh didikan maulana membuat Iqbal menjadi seorang penyaair dengan semangat keislaman yang tinggi.
Setelah menamatkan pendidikan dasar tanah di tanah kelahirannya, Iqbal melanjutkan pendidikan dasar-dasar di tanah kelahirannya, Iqbal melanjutkan sekolahnya di Government Colege, Lahore (1885). Pada masa ini, kecerdasan Iqbal telah terlihat. Ia adalah salah satunya murid Sir Thomas Arnold, seorang Ahli Islamologi terkenal yang mengejar mata kuliah filsafat Islam di Government School. Pada tahun 1905, atas dorongan sir Sir Thomas Arnold, Iqbal memelajari filsafat barat di london dan Berlin selama tiga tahun. Ia juga mendapat bimbingan dan pengarahan dari Professor Mac Taggart, seorang pengajar di Uneversitas Cambridge, London. Selain itu, Iqbal juga sering berdiskusi dengan para pemikir
Di Eropa lain. Beberapa tahun kemudian, Iqbal berhasil meraih gelar Doctor dari Uneversitas Munich, dengan di sertai berjudul The Development Of Metaphysics in Persia yang merupakan karya filsafat pertama Iqbal. Selama tiga tahun berada di eropa, pemikiran Iqbal mulai berubah. Ia menemukan kenyataan bahwa peradapan timur dan berat telah menyatu di dalam dirinya. Meskipun demikian hari, ia membangun sistem filsafatnya sendiri yang berdasarkan al-Qur'an
Iqbal kembali ke Lahore setelah sempat mengajar Bahasa Arab di Universitas London dan menjadi ketua jurusan Filsafat dan di kesusasteraan inggris. Di lahora, ia menjadi seorang pengacara, disela-sela kesibukannya, Iqbal masih sempat menulis sebuah puisi berbahasa Persia dan Urdu, serta artikel tentang filsafat, ekonomi, politik, dan sastra berbahasa inggris. Sebagai seorang penulis, meskipun telah mengenyam pendidikan barat, tapi Iqbal mengecam dunia barat lewat tulisannya.
Konon, idealisme Iqbal terilhami dari tulisan Sir Sayed Ahmad Khan (1817-1898) yang isinya menyarankan Umat Islam mempelajari berbagai buku ilmu pengetajuan barat, meskipun pengarangnya bukan beragama islam dan isi bukunya menyalahi al-Qur'an. Iqbal berkata bahwa setiap muslim harus meniru orang-orang Arab zaman dahulu yang tidak takut kehilangan iman mereka karena memelajari hukum Newton atau menuntut ilmu du berat. Secara terang-terangan, Iqbal menghargai perbedaan barat dngan cara mengambil hal yang baik dan bermanfaat

Sementara itu, sebagai filosof muslim, Iqbal sering menuangkan gagasan tentang pribadi manusia (ego) yang kemudian menjadi tema pokok sejumlah puisinya. Sejumlah pemikiran Iqbal tentang hal tersebut termuat dalam beberapa kumpulan puisinya, seperti Syikwa (keluhan), jawab-i-Syikwa (jawaban keluhan), Bang-I Dara (pangggilan Lonceng), Asrar-I (Rahasia Pribadi), dan Rumudzi Bekhudi (Misteri PenyangkalanDiri). Di kemudian hari, beberapa karyanya telah di sadur dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, beberapa ceramah Iqbal termuat dalam sebuah buku kumpulan ceramah yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Buku ini adalah karya filsafatnya yang kedua.
Iqbal menentang keras sifat lamban, lemah, dan malas karena dipandangnya sebagai penghambat kemajuan. Ia juga sangat menentang pengertian takdir yang salah kaprah. Menurut Iqbal, seseorang yang ingin maju harus berjuang dengan gigih, bukan hanya menunggu takdir. Kerja keras adalah kunci kesuksesan.
Dalam dunia politik, Iqbal sempat menjabat Presiden Liga Muslim. Ia adalah tokoh pencetus Negara Islam Pakistan. Pengaruh Iqbal sedemekian sehingga namanya di abadikan di beberapa lembaga di jerman, Italia, dan Negara-negara lain. Pada tahun 1922, sebuah Uneversitas tertua di Jepang menganugerahkan gelar Sir pada Iqbal beberapa waktu kemudia,Iqbal juga mendapat gelar Doctor Anumerst di bidang sastra dari Universitas Tokyo. Gelar iniadalah gelar pertama yang diberikan pihak Universitas kepada seorang tokoh yang berprestasi dan berdedikasi di bidang tersebut.
Muhammad Iqbal meninggal dunia pada tangggal 21 April 1923 di Lahore. Ia dimakamkan didekat pintu gerbang masjid Shahi di Lahore, Pakistan . dua tahun setelah kematian Iqbal, sebuah revolusi besar terjadi di Pakistan, yang kemudian memicu terbentuknya Republik Islam Pakistan. Sebagai salah satu pencetusnya, Iqbal tidak sempat menyaksikan kelahiran Negara baru tersebut.

Minggu, 06 September 2009

Mitsalu Na'lil Mushthofa  Gambar Sandal Rosululloh al Mushthofa; Tanda Cinta, dan Keajaiban Dibalikny

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak

Gambar di samping adalah gambar dari sandal Rosululloh .
Tapi, sebelum kita membicarakannya, kita bahas terlebih dahulu tentang bentuk sandal Rosululloh :
Sandal beliau  terbuat dari kulit sapi yang sudah tidak ada bulunya, berlapis-lapis dan dijahit, mempunyai lekuk tapak kaki, dan berbentuk seperti lidah, mempunyai tumit, dan berwarna kuning. Sandal beliau pun mempunyai dua tali pengikat, salah satunya berada antara ibu jari dan telunjuk kaki beliau, sedangkan yang lain berada di antara jari tengah dan jari manis beliau.
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Umar , bahwa beliau memakai sandal as Sibtiyyah, yaitu sandal kulit yang sudah tidak ada bulunya, dan beliau berkata,: “Sungguh aku melihat Rosululloh  memakai sandal yang tidak ada bulunya, dan beliau berwudhu dengannya, maka aku pun senang untuk memakainya.” (Wasa”ilul Wushul, hal. 128).
Dari beberapa nama Rosululloh  yang tertulis dalam kitab-kitab terdahulu adalah Shohibun Na’laini (pemilik dua sandal), sebab memakai sandal adalah kebiasaan orang Arab. Beliau memiliki dua sandal, dan delapan khuf (sepatu kulit). Beliau berjalan dengan memakai sandal dan kadang juga tidak memakai sandal, tak terkecuali bila beliau berangkat ibadah, dengan tawadhu’, dan beliau sholat di atas sandal beliau yang keduanya dalam keadaan suci. Dalam beberapa tempo beliau membawanya dengan telunjuk jari kiri beliau. Sedangkan yang bertugas (berkhidmah) untuk membawanya adalah sahabat Ibnu Mas’ud , beliau menaruh kedua sandal tersebut pada lengannya ketika Rosululloh  melepasnya dan menyuguhkannya kembali pada Rosululloh  jika akan dipakai. Jika memakainya, Rosululloh  mendahulukan bagian kanan, dan mendahulukan bagian kiri ketika melepasnya. Bila beliau duduk untuk berbicara, maka beliau melepas sandalnya. Beliau juga melarang kita berjalan dengan memakai satu sandal saja.
Gambar sandal tersebut dibuat oleh Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy, seorang pecinta sejati Nabi  yang menghabiskan umurnya untuk berkhidmah di bidang tulis menulis yang berhubungan dengan Rosululloh . Gambar tersebut beliau nukil dari kitab Fathul Muta’al karya al-‘Allamah Ahmad al-Muqriy, yang berasal dari ulama terdahulu, dan telah direkomendasikan oleh para ulama dan huffadh seperti as-Suyuthi, as-Sakhowiy, dan ad- Daimiy. Walaupun hanya berupa gambar, tapi karena pemilik sandal ini adalah pemimpin para Rosul, maka gambarnya pun banyak sekali memiliki barokah. Syeikh Yusuf an-Nabhaniy menukil beberapa faidah dari gambar sandal Rosululloh  ini yang telah diteliti dan dicoba oleh ulama terdahulu dari Imam al-Qusthullaniy dalam al-Mawahib al-Laduniyah, dan Syeikh Ahmad al-Muqriy dalam Fathul Muta’aal, sebagai berikut:
1. Orang yang membawanya dengan mengharap barokahnya (tabarruk) maka akan selamat dari gangguan pengacau, dan lawan. Juga mendapatkan penjagaan dari setiap setan yang senang menjerumuskan manusia, dan dari bahaya a’in (pengaruh jelek mata) orang yang hasud.
2. Bila wanita hamil membawanya di tangan kanannya ketika akan melahirkan, maka proses melahirkan akan digampangkan, bi haulillah wa quwwatihi.
3. Mendapatkan penjagaan dari sihir.
4. Orang yang selalu membawanya akan diterima di masyarakat, dan akan dapat menziarahi Rosululloh  dan melihat beliau  dalam mimpi.
5. Bila tentara membawanya, maka pasukannya akan menang. Bila dibawa bepergian (baik darat maupun laut), maka akan selamat. Jika ditaruh dalam rumah, maka rumah tersebut tidak akan terbakar. Jika ditaruh dalam barang dagangan, maka barang tersebut tidak akan dicuri.
6. Bila kita bertawassul dengan pemilik sandal ini (Rosululloh ) untuk suatu hajat, maka hajat kita akan dikabulkan. Atau untuk suatu kesempitan (masalah), maka akan diberi jalan keluar. Atau pada orang yang sakit, maka ia akan sembuh.
7. Dan orang yang menaruh gambar tersebut di atas kepalanya, maka Alloh  akan memenuhi apa yang dicita-citakannya.
Keistimewaan itu semua dapat dicapai dengan syarat kuatnya iman (mantap). Salah satu kisah tentang barokah gambar ini adalah: Abu Ja’far Ahmad bin Abdil Majid (seorang syaikh yang sholeh) memberikannya pada seorang murid. Kemudian murid tersebut mendatangi dan berkata pada beliau,: “Tadi malam aku menyaksikan barokah yang sangat menakjubkan dari gambar ini. Istriku tertimpa penyakit parah yang hampir membuatnya meninggal, kemudian aku menaruh gambar tersebut di tempat yang sakit dan berkata,: ‘Ya Alloh, perlihatkan kepadaku barokah pemilik sandal ini (Rosululloh ).’ Akhirnya Alloh  menyembuhkannya seketika.” (Lihat Wasa’ilul Wushul hal. 130).
Gambar yang dibuat oleh Syeikh Yusuf bin Ismaa”iil an-Nabhaniy ini merupakan gambar yang paling benar, diantara tiga gambar yang ada (sebelumnya). Pun dalam sebuah mimpinya, beliau mendapatkan bisyaroh (kabar gembira), seperti yang beliau tulis dalam kitabnya Sa’adatud Darain: (Mimpi ke sembilan): saya bermimpi setelah mencetak Mitsalun Na’lis Syarif, setelah Shubuh hari selasa tanggal 11 Sya’ban 1315 H, bahwa saya berangkat haji, dan saya melihat tempat yang sering dikunjungi orang-orang, yang dibangun dari batu, dan di dalamnya terdapat batu yang diatasnya terdapat bekas kaki Rosululloh , bangunan tersebut memang dibuat agar orang-orang menziarahi dan mengalap barokah dengannya. Maka terbersit di hatiku bahwa sayalah yang membangun tempat tersebut, maka aku pun menciumnya dan berdo’a,: ‘Ya Alloh, saya bertawassul kepada-Mu dengan pemilik jejak kaki ini , berilah aku haji yang maqbul.’ Maka aku pun terbangun dan menakwili mimpi ini dengan benar dan sesuainya gambar yang aku buat dengan sandal Nabi , wal hamdu liillahi robbil ‘alamin. (lihat hal. 481).
Beliau juga menulis: (Mimpi ke tiga): “Saya bermimpi melihat Rosululloh  setelah mimpi yang kedua dengan jarak sekitar 5 bulan, juga setelah fajar, keadaan beliau putih bersinar sebagaimana mimpi sebelumnya. Dan dalam mimpi ini, saya melihat ada dua pena di depan beliau, salah satunya berupa ruas kayu yang masih utuh belum diraut, dan yang lain telah berkurang, tinggal seukuran lima biji, dan telah diraut dengan rautan yang tidak lurus. Maka di hatiku timbul keinginan untuk meminta pena yang kedua karena beliau sudah tidak membutuhkannya lagi, tujuanku agar aku bisa berwasiat untuk menaruhnya dalam kuburku bila aku mati untuk dapat membelaku. Tapi aku malu memintanya dari beliau  secara terang-terangan, sehingga aku pun berbasa-basi dahulu agar aku dapat memintanya. Aku berkata pada beliau ,: “Apakah ini pena Anda?” Beliau pun menjawab,: “Ya, apa yang engkau inginkan darinya?” aku pun berkata,: “Aku ingin Anda memberikannya padaku, agar ia dikubur bersamaku dalam makamku kelak”. Maka Rosululloh  berkata - dan aku sudah merasa bahwa beliau akan memberikannya,: “Engkau dikubur di dalam As-Syaikh Sa’iid”. Aku pun terbangun walhamdu lillahi Robbil ‘alamin, dan dalam hatiku terbesit bahwa ada pemakaman yang bernama as-Syaikh Sa’iid. Aku pun kemudian menceritakan mimpi ini pada salah satu temanku yang sholeh, dan dia berkata,: “As-Syaikh Sa’iid adalah engkau, dan pengakuan ini dari Rosululloh , mengisyarohkan pada ucapanmu di akhir Mitsalun Na’lis Syarif:
سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِدْمَةِ نَعْلِهِ 
وَ انَا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهَا
Sahabat Ibnu Mas’ud telah beruntung karena mengabdi pada sandal al Musthofa * Dan akulah orang yang beruntung karena pengabdianku pada gambarnya.
Maka aku pun gembira dengan takwil ini, semoga Alloh Ta’ala menjadikannya sebagai kenyataan. (Lihat hal. 479, dengan peringkasan).
Maa syaalloh la quwwata illa billah. Saudara-saudaraku, dengan penuh kecintaan, kerinduan, dan pengagungan pada Rosululloh , semoga Alloh  juga memberikan barokah Rosululloh  dan Mitsalun Na’lis Syarif ini kepada kita, sebagaimana yang Alloh  berikan pada Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy dan ulama terdahulu, amiin.
(Amm Muhammad Fatih Nabhaniy)

Sumber: Sa’adatud Darain, as-Syaikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy , hal. 493-495, 479, dan 481, cet. Darul Fikr Lebanon. Lihat Juga karya beliau: Wasaa’ilul Wushul ilaa Syama’ilir Rosul , hal. 128-131, cet. Darul Minhaj, Lebanon).
Gambar sandal Rosululloh karya Syeikh Yusuf an Nabhaniy ini juga dapat Anda temui dalam kitab adz Dzakhooir an Nabawiyyah, karya Abuya as Sayyid Muhammad bin ‘Alawiy al Malikiy al Hasaniy .

Beberapa Syair Tentang Na’lul Musthofa dan Mitsalu Na’lil Musthofa


Dalam gambar yang dibuat Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy terdapat beberapa bait syair, tetapi ada beberapa kalimat yang kemudian beliau perbaiki sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitab Sa’aadatud Darain:
مِثَـالٌ حَكَى نَعْلاً ِلأَفْضَلِ مُرْسَلِ  تَمَنَّتْ مَقَـامَ التُّرْبِ مِنْهُ فَرَاقِدُ
ضَرَائِرُهَا السَّبْعُ السَّمٰوَاتِ كُلُّهَا  غَيَارَى وَ تِيْجَانُ الْمُلُوْكِ حَوَاسِدُ
Inilah gambar yang melukiskan sandal utusan Alloh yang termulia * karenanya, bintang kutub utara berandai untuk menjadi tanah (tempat sandal itu berpijak).
Saingannya, seluruh langit tujuh cemburu * dan mahkota para raja pun mendengki.
عَلَى رَأْسِ هٰذَا الْكَـوْنِ نَعْـلُ مُحَمَّدٍ 
عَلَّتْ فَجَمِيْعُ الْخَلْقِ تَحْتَ ظِلاَلِهِ
لَدَى الطُّوْرَ مُوْسَى نُوْدِيَ اخْلَعْ وَ أَحْمَدٌ 
عَلَى الْعَرْشِ لَمْ يُؤْذَنْ بِخَلْعِ نِعَالِهِ
Di atas kepala semesta sandal Muhammad  bertahta * Maka seluruh ciptaan berada di bawah naungannya.
Tatkala di gunung Thur, Musa dipanggil,: ‘Lepaslah sandalmu’ * Dan di atas Arsy, (sebagai penghormatan) Rosululloh  tak diperkenankan untuk melepas sandalnya.
مِثَالٌ لِنَعْلِ الْمُصْطَفَى مَا لَهُ مِثْلُ  لِرُوْحِيْ بِهِ رَاحٌ لِعَيْنِيْ بِهِ كُحْلُ
فَـأَكْرِمْ بِهِ تِمْثَالَ نَعْلٍ كَرِيْمَةٍ  لَهَا كُلُّ رَأْسٍ وَدَّ لَوْ أَنَّهُ رِجْلُ
Inilah gambar sandal al Musthofa yang tiada bandingnya * Karenanya ruhku memperoleh ketenangan dan mataku beroleh celak (yang mendinginkan).
Maka betapa mulia gambar sandal ini * Untuknya seluruh kepala berkeinginan untuk menjadi kaki.
وَلَمَّا رَأَيْتُ الدَّهْرَ قَدْ حَارَبَ الْوَرَى  جَعَلْتُ لِنَفْسِيْ نَعْلَ سَيِّدِهِ حِصْنَا
تَحَصَّنْتُ مِنْهُ فِيْ بَـدِيْعِ مِثَـالِهَا  بِسُوْرٍ مَنِيْعٍ نِلْتُ فِيْ ظِلِّهِ اْلأَمْنَا
Dan ketika kulihat masa telah memangsa manusia * Kujadikan sandal junjungannya sebagai benteng perisai diri.
Aku berlindung dari masa dalam keelokan gambarnya * Dengan pagar pencegah kuperoleh keamanan di bawah naungannya.
إِنِّيْ خَدَمْتُ مِثَالَ نَعْلِ الْمُصْطَفَى  ِلأَعِيْشَ فِي الدَّارَيْنِ تَحْتَ ظِلاَلِهَا
سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِـدْمَةِ نَعْلِهِ  وَ انَـا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهَا
Sungguh aku mengabdikan diri pada gambar sandal al Musthofa * Agar aku hidup di dunia dan akhirat di bawah naungannya.
Sahabat Ibnu Mas’ud telah beruntung karena mengabdi pada sandal al Musthofa * Dan akulah orang yang beruntung karena pengabdianku pada gambarnya.
(As Syaikh Yusuf bin Ismaa”iil an Nabhaaniy )
Dan duhai betapa indah perkataan Imam Abu Bakr al Qurthubiy rohimallohu Ta’alaa:

وَ نَعْلٍ خَضَعْـنَا هَيْبَةً لِبَهَائِهَا  وَ إِنَّا مَتَى نَخْضَـعْ لَهَـا أَبَدًا نَعْلُوْ
Dan sandal yang kita merendahkan diri dengan memuliakan karena keelokannya, dan sesungguhnya bila kita merendahkan diri padanya, maka selamanya kita akan terangkat mulia.
فَضَعْهَا عَلَى أَعْلَى الْمَفَارِقِ إِنَّهَا  حَقِيْقَتُهَا تَاجٌ وَ صُـوْرَتُهَـا نَعْلُ
Maka letakkanlah ia di atas kepala (tempat belahan rambut), karena sungguh dalam hakikatnya ia adalah mahkota, walaupun sandal adalah bentuknya.
بِأَخْمَصِ خَيْرِ الْخَلْقِ حَازَتْ مَزِيَّةً 
عَلَى الـتَّاجِ حَتَّى بَاهَتِ الْمَفْرِقَ الرِّجْلُ
Karena (dipakai) lekuk telapak kaki makhluk terbaik , sandal itu memperoleh keistimewaan di atas mahkota, hingga kaki pun berwibawa mengalahkan kepala.
شِفَاءٌ لِذِيْ سُقْمٍ، رَجَـاءٌ لِبَائِسٍ 
أَمَانٌ لِذِيْ خَوْفٍ، كَذَا يُحْسَبُ الْفَضْلُ
Dialah pengobat bagi orang yang terjangkit penyakit, harapan bagi yang terlantar, keamanan bagi yang ketakutan, begitulah dihitung keutamaannya.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّهُمَّ بِهِمْ بَلِّغْ شَوْقِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ،
دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ... دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ... دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ...
وَأخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

MAHKOTA BERCAHAYA DI SURGA

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak merupakan aset berharga bagi kedua orang tuanya. Dan sesuatu yang membanggakan pula. Sehingga akan timbul kerisauhan di hati sepasang suami istri, bila dalam perjalanan rumah tangga mereka belum juga dikaruniai seorang buah hati. Maha benar Allah yang berfirman :
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia”
Ya, seorang insan akan berbangga jika ia dikaruniai harta yang melimpah serta keturunan yang banyak. Namun Islam tidak datang untuk melenakan manusia di kehidupan dunia, tapi agama Allah ini membimbing dan mengarahkan kita untuk memanajemen apa yang telah diberikan oleh Allah, agar selalu mengarah kepada kehidupan akhirat yang kekal. Karenanya, Allah pun melanjutkan ayat di atas dengan pesan indah :
وَاْلبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
“Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi soleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi pengharapan” ( Al-Kahfi/18:46).
Sungguh indah bila kita mau merenungkan. Pahala yang besar dan pengharapan yang baik di sisi Allah tentunya lebih membanggakan daripada sekedar perhiasan hidup di dunia. Bayangkan! Betapa berbahagianya seorang insan, bila di dalam kuburnya kelak, ada pahala yang terus mengalir untuknya karena harta yang diberikan Allah untuknya tatkala hidup, digunakan untuk berderma dan hal-hal yang baik lainnya. Begitu pula bila anak kandungnya tumbuh menjadi seorang sholih yang selalu berguna bagi kedua orang tuanya.
Dan salah satu cara untuk mendidik anak kita menjadi seorang yang sholih adalah dengan mengajarinya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Namun poin ini justru luput dari perhatian orang tua saat ini. Mereka lebih mementingkan pendidikan formal untuk anak mereka dengan alasan agar buah hatinya kelak bisa hidup mapan. Ataupun bila mereka mendaftarkan anak mereka ke TPQ atau Madrasah Diniyah, pengajaran dan pendidikan mereka langsung saja dibebankan di atas pundak-pundak para ustadz tanpa mau tahu bagaimana perkembangan buah hatinya sendiri, hanya segelintir orang tua saja yang mau peduli.
Padahal bila kita mau mengerti, sebenarnya belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang sulit bagi anak-anak kita. Berbagai metode telah dimunculkan dan tersebar di mana-mana untuk mempermudah pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi anak-anak, begitu pula dengan menghafal Al-Qur’an.
Sungguh ironis sekali, karena sekarang sering kita temukan anak-anak seumuran TK atau SD lebih fasih mengucapkan kalimat bahasa Inggris sedangkan untuk membaca Al-Qur’an mereka terbata-bata. Pun di sana sini sering kita menemukan anak-anak yang dengan lancarnya menghafal dan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang sering ditayangkan di TV, padahal itu sangat tidak pantas bagi mereka, sedangkan untuk hafalan Al-Qur’an? Ayat kursi entah hafal atau tidak?
Padahal Allah telah menyiapkan pahala besar bagi orang yang mau menghafal Al-Qur’an, Rosulullah bersabda:
يَجِيْءُ صَاحِبُ الْقُرْأنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ إِرْضَ عَنْهُ، فَيُرْضَى عَنْهُ. فَيُقَالُ لَهُ: إِقْرَأْ وَارْقَأْ، وَيُزَادُ بِكُلِّ أيَةٍ حَسَنَةً. (رواه الترمذي)
“Penghafal Al-Qur’an datang (menghadap Allah) pada hari Kiamat, kemudian Al-Qur’an berucap: “Wahai Tuhanku, mohon berilah dia perhiasan, lalu dia diberi mahkota kemuliaan. Lalu dia berkata: "Tuhanku, tambahilah dia", kemudian ia diberi pakaian kemuliaan. Al-Qur’an pun kembali meminta; “Ya Tuhanku Ridhoilah dia!” akhirnya Allah pun meridhoinya. Kemudian dikatakan padanya: “Bacalah ayat Al-Qur’an (yang kau hafal) dan naiklah”, dan ditambahkan satu kebaikan bagi setiap ayat (yang dibaca)". HR. At-Tirmidzi
Indahnya, keutamaan yang luar biasa ini tidak hanya didapat sang penghafal saja, bahkan orang tua yang melahirkannya akan turut mendapat anugerah yang berlimpah dan bakal terangkat derajatnya. Di hadits yang lain Rosulullah menerangkan fakta ini.
مَنْ قَرَأَ الْقُرْأنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ، أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُوْرٍ، ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ. وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ، لاَ تَقُوْمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُوْلاَنِ: بِمَ كُسَيْنَا هذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْأَنَ. (رواه الحاكم)
“Barang siapa belajar Al-Qur’an, mengajarkan dan mengamalkannya, kelak akan dikenakan padanya mahkota yang bercahaya di hari kiamat. Sinarnya menyamai terang matahari dan kedua orang tuanya pun diberi dua pakaian yang tidak dapat dibandingi dengan gemerlap dunia. Mereka berdua kemudian bertanya keheranan: “Karena amalan apakah kami berdua berhak diberi pakaian ini? lalu dikatakan: “Karena buah hati kalian telah belajar, mengajar dan mengamalkan Al-Qur’an” (HR. Al-Hakim)
Ah, alangkah indahnya bila semua orang tua mau memberi perhatian lebih bagi pelajaran Al-Qur’an untuk anaknya dan sang anak pun memiliki semangat untuk belajar kitab Tuhannya. Imam Asy-Syatibi berkata :
فَـيَا أَيُّهَا الْقَارِيْ بِهِ مُتَمَسِّكَا * مُجِلاًّ لَهُ فِيْ كُلِّ حَالٍ مُـبَجِّلاَ
هَنِيْـئًا مَرِيْـئًا وَالِدَاكَ عَلَيْهِمَا * مَلاَبِسُ أَنْوَارٍ مِنَ التَّاجِ وَالْحُلَى
فَمَا ظَنُّكُمْ بِالنَّجْلِ عِنْدَ جَزَائِهِ * أُولئِكَ أَهْلُ اللهِ وَالصَّفْوَةُ الْمَلاَ
Duhai pembaca Al-Qur’an yang berpegang teguh dengannya
Yang mengagungkannya di setiap situasi dengan sepenuh penghormatan
Betapa nikmat dan bahagia, kedua orang tuamu kan dianugerahi pakaian dan mahkota yang bercahaya
Lalu bagaimana anggapanmu bagi sang buah hati ketika tiba hari pembalasan amal? Merekalah Ahlullah dan makhluk Allah yang terpilih.
Sedangkan bagi orang yang tiada perhatian dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an, Rosulullah memberikan perumpamaan yang sungguh sangat penting untuk kita renungkan, Rosulullah bersabda :
إِنَّ الَّذِيْنَ لَيْسَ فِيْ جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْأَنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ (رواه الترمذي)
“Sesungguhnya orang yang tidak memiliki hafalan Al-Qur’an sedikitpun, mereka bagaikan rumah yang reot" (HR At-Turmudzi)
Setelah tahu berbagai teguran di atas, masihkah kita tidak mau tahu akan pembelajaran Al-Qur’an anak kita? Dan membiarkan mereka lebih dekat dengan budaya barat dan semakin jauh dengan budaya Islam dan bimbingan Al-Qur’an yang penuh keagungan? Sudah saatnya kita berikan semangat pada anak-anak kita untuk kembali merangkul Al-Qur’an dan mengembalikan kejayaan Islam.
شَـبَابَنَا قَدْ أنَ أَنْ تَعُوْدُوْا * لِوَاحَةِ اْلإِيْمَانِ كَيْ تَسُوْدُوْا
شَـبَابَنَا لاَ خَوْفَ يَعْتَرِيْنَا * لاَ خَوْفَ وَالْقُرْأنُ فِيْ أَيْدِيْنَا
قُرْأنُـنَا نُوْرٌ لَنَا يَـقِيْـنًا * فَإِنْ تَمَسَّكْـنَا بِهِ هُدِيْـنَا

Duhai generasi mudaku, telah tiba waktumu untuk kembali kepada petunjuk keimanan
agar engkau dapat kembali memimpin Islam.
Wahai generasi mudaku, tiada ketakutan yang akan menyerang kita,
tidak ada ketakutan bila Al-Qur’an berada di genggaman tangan kita
Sungguh Al-Qur’an adalah cahaya bagi kita, bila kita berpegang teguh
dengannya kita akan diarahkan menuju petunjuk kebenaran.


alalmadinah@yahoo.com

Selimut dari Kekasih Kisah Cinta Dibalik Qasidah Burdah

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak


Qoshidah itu terus bergema, melantunkan senandung kerinduan dan pujaan yang mengingatkan pada kekasih yang berada di daerah Dzi Salam. Tak henti-henti semua muslimin di seluruh penjuru dunia menjadikannya sebagai luapan rintihan karena rindu akan pertemuan yang diinginkan.
مَوْلَيَ صَـلِّ وَ سَـلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ * لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
Wahai Junjunganku, selalu limpahkan sholawat dan salam kepada kekasih-Mu, sebaik-baik makhluk secara keseluruhan.
Dialah kekasih yang diharapkan pertolongannya, untuk semua ketakutan yang menimpa.

Yah, qoshidah Burdah memang selalu didengungkan oleh para pecinta di setiap saat. Apalagi di Indonesia, setiap waktu sholat datang, qoshidah ini selalu bergema. Qoshidah ini memang diliputi barokah, sehingga tak lekang digerus zaman. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya pengarang dan asal mula munculnya qoshidah ini?
Nama pengarang qoshidah ini adalah Abu Abdillah Syarofuddin; Muhammad bin Sa’iid as Shinhajiy (w 696 H). Beliau dilahirkan di Dilaash, namun tumbuh berkembang di Bushir (sehingga lebih dikenal dengan nama Imam al Bushiri). Beliau memulai hidupnya dengan menghafalkan al Qur”an, belajar ilmu agama dan bahasa Arab.
Perasaan beliau selalu dipenuhi dengan kecintaan kepada Rosululloh , iman dan keyakinannya teguh. Dalam syair-syair qoshidahnya, kebanyakan tertuang pujian kepada Khoirul Bariyyah . Sedangkan qoshidahnya yang paling agung adalah Burdatul Madiih, belum ada seorang pun yang mendahuluinya dalam mengarang qoshidah seperti ini, dan hingga kini belum ada yang sanggup menandinginya. Betapapun banyak qoshidah yang dikarang untuk menyerupainya, disusun dengan mengikuti metodenya, namun tak bisa menjangkau tingkatan keindahan qoshidah Burdah. Hingga Syeikh Ahmad Syauqi Bik (wafat 1351 H/ 1932 M) yang digelari oleh para ulama sebagai Amirusy Syu’aro (pemimpin para penyair), mengatakan dalam qoshidahnya, Nahjul Burdah:
Para pemuja dan pemilik rindu mengikuti pengarang al Burdah (al Bushiriy) yang luas dan lebih terdahulu.
Pemujinya memiliki cinta dan rindu yang murni kepadamu, dan orang yang benar cintanya mendikte orang yang benar omongannya.
Alloh menyaksikan bahwa aku tak dapat menandinginya (al Bushiriy), siapakah yang dapat menandingi luapan banjir bandang ‘Arim?
Namun sesungguhnya aku termasuk bagian orang yang memiliki keinginan (ghibtoh), dan orang yang ingin seperti kekasih-Mu (Imam al Bushiriy, dalam memuji Rosululloh , red), tidak pantas untuk dicela dan dikecam.

Imam Ibnu Hajar mengatakan,: “Al Bushiriy merupakan keajaiban yang ditampakkan Alloh dalam susunan prosa dan syair. Andaikan ia tidak memiliki karya kecuali qoshidahnya yang terkenal dengan nama al Burdah, maka itu sudah cukup mengangkat kemegahanya. Begitu pula qoshidah Hamaziyah-nya (qoshidah yang diakhiri dengan huruf hamzah, red) yang memukau. Kemasyhuran al Burdah semakin bertambah, hingga orang-orang selalu membacanya di rumah-rumah dan masjid-masjid.”
Sedangkan Dr. Su’aad Mahir berkata,: “Pada awal kehidupannya, al Bushiriy memegang dan mengajar menulis pada beberapa kelompok di daerah Bilbis, kemudian dia meninggalkan tugas-tugas pemerintahan dan kesenangan kehidupan dunia, dan menyendiri dalam kehidupan tasawuf dan menghabiskan waktunya untuk beribadah. Lalu dia pergi ke Iskandariyah untuk menjadi murid al Quthb Abul ‘Abbaas al Mursiy . ‘Aliy Mubarok berkata,: ‘Al Bushiriy dan Ibnu ‘Athoillah as Sakandariy adalah dua murid dari Abul ‘Abbaas. Al Bushiriy dianugerahi keunggulan dalam bentuk syair, sedangkan Ibnu ‘Athoillah (pengarang al Hikam) dianugerahi keunggulan dalam bentuk prosa (natsar).”
Al Bushiriy telah melakukan mulazamah dan belajar kepada gurunya sehingga tampaklah barokah pada dirinya, dalam agama, ilmu, wara’, dan kewalian. Setelah itu dia memilih sistem yang lain dalam mengarang syairnya. Maka jadilah syairnya berisi tasawuf dan pujian ke hadirat Rosululloh , dan dia pun memurnikan cintanya kepada Alloh  dan Rosul-Nya.
Asal muasal dikarangnya al Burdah, menurut Imam al Muqriziy, suatu waktu Imam al Bushiri tertimpa penyakit stroke, setengah badannya tak dapat digerakkan. Penyakit ini berlangsung lama, hingga di atas kasur pun beliau tidak bisa membalikkan bagian badannya yang kanan ke bagian yang kiri. Ketika sakit itu semakin memberatkannya, beliau pun akhirnya berkeingingan keras untuk membuat qoshidah yang berisi pujian kepada Rosululloh , dan meminta pertolongan kepada Alloh lewat qoshidah tersebut, dengan harapan Alloh akan menyelamatkannya dari penyakit yang menimpanya. Maka beliau pun merangkai qoshidahnya yang terkenal dengan nama al Burdah, yang awalnya:
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
Apakah karena mengingat kekasih y ang berada di Dzi Salam, engkau mencampur air mata yang mengalir dari kelopak dengan darah?
Beliau pun melantunkan qoshidah itu berulang kali, dan meminta pertolongan kepada Alloh dengan perantaran Rosululloh  untuk menghilangkan kesedihannya. Beliau banyak menangis dan berdo”a. Hingga suatu saat, ketika beliau tertidur, beliau bermimpi bertemu Nabi kita, Muhammad  , seakan-akan dengan tangannya yang mulia, beliau  mengusap bagain tubuh Imam al Bushiri yang sakit. Kemudian Rosululloh  melemparkan burdah (selimut lorek, red) kepadanya. Di saat itu juga beliau pun terbangun, dan ternyata beliau telah sembuh seketika.
Akhirnya beliau pun keluar dari rumahnya. Dan pada mulanya apa yang terjadi antara beliau dan Alloh  adalah suatu rahasia yang tiada diketahui seorang pun. Maka ketika beliau tengah keluar rumah, sebagian fuqoro (wali) menemui beliau dan berkata,: “Aku ingin engkau memberiku qoshidah yang kau gunakan untuk memuji Rosulalloh .” “Qoshidah mana yang engkau inginkan? Karena aku memuji Rosululloh  dengan banyak qoshidah”, kata beliau membalik pertanyaan. Faqir itu pun menjawab,: “Qoshidah yang kau ciptakan disaat sakit, yang awalnya:
أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ
Demi Alloh, tadi malam kami telah mendengarnya dilantunkan di hadapan Rosululloh  dan beliau menggoyang-nggoyangkan tubuh beliau (karena terhanyut, red) ketika mendengarnya, seperti condongnya batang kurma (ketika tertiup angin, red), aku pun takjub. Beliau juga melemparkan burdah kepada orang yang melantunkannya.” Masya Alloh la quwwata illa billah.
Akhirnya, Imam al Bushiriy memberikan qoshidah itu kepadanya. Mimpi itu pun tersebar di Mesir, hingga raja Bahauddin ‘Aliy bin Muhammad bin Hana mendengarnya. Akhirnya beliau bersumpah untuk mendengarkan qosidah itu dengan berdiri dan kepala terbuka. Maka beliau pun akhirnya mendengarkan qoshidah itu dengan keadaan demikian, beliau kagum akan qoshidah itu, dan beliau sekeluarga mencari (ngalap, jw) barokah dengan mendengarkannya.
Berita itu pun santer di halayak umum. Bertepatan dengan itu, Sa’duddin al Faariqiy, pegawai Bahauddin Aliy tertimpa radang mata yang parah hingga mendekati kebutaan. Kemudian di kala tidur, dia bermimpi seakan-akan ada orang yang mengatakan kepadanya,: “Pergilah kepada raja Bahauddin, dan ambillah selimut lorek (burdah) darinya, lalu taruhlah pada kedua matamu, niscaya akan sembuh seketika”.
Ketika dia mendatangi raja dan menceritakan mimpinya, Bahauddin ‘Aliy pun berkata,: “Demi Alloh, aku tak memiliki peninggalah Nabi Muhammad  yang berupa selimut.” Beliau berpikir sejenak, kemudian berkata,: “Mungkin yang dimaksud adalah qoshidah Burdah, karena kami mengalap barokah dengannya.” Beliau akhirnya memerintahkan budaknya yang bernama Yaqut untuk berkata kepada pembantu,: “Bukalah kotak penyimpanan peninggalan (atsar) Nabi Muhammad , dan keluarkan qoshidah itu dari bejana minyak Ambar, dan bawalah datang kemari.” Ketika qoshidah itu telah tiba, al Faruqiy menaruhnya pada kedua matanya dan qoshidah itu dibacakan, akhirnya kedua matanya pun sembuh.
Semenjak itu qoshidah ini dinamakan al Burdah. Dan qoshidah tersebut sangat terkenal di negara Mesir, Syam, Maghrib, Hijaz, dan Yaman. Orang-orang pun betambah mengagungkannya, hingga menjadikannya sebagai jimat yang digantungkan di kepala. Dan mereka beranggapan bahwa qoshidah ini memiliki kasiat yang banyak sekali, dan dugaan itu masih berlangsung hingga hari ini. Hadza min fadhli Robbinaa.
Semoga Alloh selalu mengampuni, merahmati, dan meninggikan derajat Imam al Bushiri di surga. Memasukkan niat, amal, dan tujuan kita dalam niat, amal. Serta tujuan beliau. Dan memberikan asror, anwar, ilmu-ilmu beliau dan qoshidah Burdah kepada kita semua, bi haqqi Sayyidina Rosulillah Muhammad bin ‘Abdillah , amin....

صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنْتَ عُمْدَتِيْ فِيْ شِدَّتِيْ فَأَغِثْنِيْ

Transleter: ‘Aam Muhammad Fatih Nabhani
Sumber: Hizbul Istighotsaat, Syaikh Yusuf bin Isma’il an Nabhaniy,
tahqiq: Muhammad Kholid Tsabit, (hal. 167-170), Daarul Kutub al Ilmiyah, Beirut Lebanon.

Ya Alloh… Jadikan Semua Bulan Sebagai Ramadhan…

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak


لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِيْ رَمَضَانَ مِنَ الْخَيْرِ، لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا

"Andaikan para hamba mengerti kebaikan yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku menginginkan Ramadhan sepanjang tahun."

(HR. Ath Thabarani dan Ibnu Khuzaimah dari Sayyiduna Abi Mas'ud al Ghifari)

Tak berlebihan memang bila Rosululloh bersabda sedemikian rupa. Yah, Ramadhan memang penuh dengan warna, lebih bermakna, dan tentunya segudang keutamaan ditawarkan Alloh bagi yang mau menyambutnya dengan suka cita.

Namanya pun menyiratkan arti yang indah dan promosi luar biasa. Tentunya untuk orang-orang yang mau mengambil kesempatan dengan sempurna di dalamnya. Dalam salah satu haditsnya, Rosululloh bersabda: "Sesungguhnya bulan ini dinamakan Ramadhan, karena ia membakar dosa-dosa." (HR. Muhammad bin Manshur as Sam'ani dari Sayyidina Anas). Oleh karenanya, bulan ini juga menjadi sebuah harapan besar bagi kita, semoga deretan dosa yang kita torehkan di buku amalan kita dapat bersih terhapus di bulan ini.

Ramadhan yang Bertabur Keutamaan

Rosululloh memang sosok yang begitu perhatian dengan umatnya. Hati beliau selalu terpenuhi dengan keinginan bagaimana agar kita, kaum muslimin bisa menapaki apa yang telah beliau ajarkan, dan selamat dari berbagai cobaan. Kita bisa melihat bagaimana semangat beliau agar kita lebih mencurahkan kemampuan dan perhatian kita untuk Ramadhan. Keutamaan bulan ini dan orang yang mau mengisinya dengan puasa serta ibadah-ibadah lainnya, telah beliau ungkapkan dalam untaian sabda-sabda beliau:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mencari ridho Alloh, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat atau yang akan datang." (HR. Ahmad dari Sayyiduna Abu Hurairah).

Dalam hadits yang lain, beliau juga menjelaskan jika Alloh sendirilah yang akan membalas pahala orang yang berpuasa tanpa memberitahukannya kepada Malaikat. Bau mulut mereka lebih mewangi daripada minyak Misik, dan bagi mereka dua kegembiraan yang dijanjikan. Pun puasa juga merupakan tameng dari perkara-perkara yang dapat menceburkan kita ke dalam neraka. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya Tuhan kalian berfirman,: 'Setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat. Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya sendiri. Puasa adalah tameng dari neraka. Sungguh, bau mulut orang yang puasa itu lebih semerbak wanginya di sisi Alloh daripada bau minyak Misik. Dan jika seseorang berbuat bodoh terhadap salah satu dari kalian, sedangkan ia sedang berpuasa, hendaknya ia mengucapkan: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.' Dan ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan tatkala telah selesai kewajiban Ramadhan (karena telah mendapat taufiq dari Alloh untuk beribadah di dalamny), dan kebahagiaan ketika kelak bertemu Tuhannya." (HR. at Turmudzi dari Sayyiduna Abu Hurairah)

Keutamaan-keutamaan lainnya, dapat kita baca sendiri dalam hadits-hadits berikut:

1. Pengampunan dosa dan pengkabulan do'a

"Orang yang berdzikir (mengingat) Alloh di bulan Ramadhan itu diampuni dosanya, dan orang yang meminta kepada Alloh di dalamnya tak akan kecewa." (HR. ath Thabarani dan al Bayhaqi dari Sayyiduna 'Umar)

"Bagi setiap hamba yang berpuasa ada doa yang dikabulkan ketika ia berbuka. Aku akan memberikannya di dunia atau akan Aku simpan baginya kelak di akhirat." (HR. al Hakim dari Sayyiduna 'Abdullah bin 'Umar)

"Tidurnya orang yang berpuasa adalah sebuah ibadah, diamnya adalah tasbih pensucian kepada Alloh, amalannya dilipat gandakan pahalanya, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni." (HR. al Bayhaqi dari Sayyiduna Abdullah bin Abi Awfa)

2. Pintu istimewa di surga bagi mereka yang berpuasa

"Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang disebut sebagai ar Rayyaan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk darinya kelak di hari kiamat. Tiada masuk dari pintu itu selain mereka. Jika mereka telah masuk, maka pintu tersebut akan ditutup, sehingga tiada seorang pun yang masuk dari pintu itu ." (HR. al Bukhori dan Muslim dari Sayyiduna Sahl bin Sa'id)

3. Puasa adalah zakat bagi badan kita

لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ، وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ، وَالصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

"Setiap sesuatu itu memiliki zakat, dan zakat dari badan adalah puasa, dan puasa itu setengah dari kesabaran." (HR. Ibnu Majah dari Sayyiduna Abi Hurairah)

4. Pahala berpuasa, melebihi emas sepenuh bumi

"Andaikan seseorang berpuasa sunnah sehari saja, kemudian ia diberi emas sepenuh bumi, maka itu tak akan bisa mengimbangi pahala puasa hingga tiba hari perhitungan". (HR. Abu Ya'la dan at Thabarani dari Sayyiduna Abi Hurairah).

Yah, dapat kita bayangkan sendiri. Jika puasa sunnah saja pahalanya begitu melimpah, bagaimana dengan pahala dari puasa wajib di bulan Ramadhan? Hanya saja, banyak manusia yang tidak mau menggunakan akalnya... na'udzu billah min dzalik.

5. Lima nikmat besar bagi umat Nabi Muhammad di bulan Ramadhan, yang tidak diberikan kepada umat Nabi-nabi terdahulu

"Di dalam bulan Ramadhan, umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada Nabi sebelumku. Adapun yang pertama: Sesungguhnya jika masuk malam pertama bulan Ramadhan, Alloh 'Azza wa Jalla memperhatikan mereka, dan barang siapa yang Alloh memperhatikannya, maka Alloh tak akan menyiksanya selamanya. Sedangkan yang kedua: Sesungguhnya bau mulut mereka ketika menjelang sore itu lebih semerbak mewangi di sisi Alloh daripada bau minyak misik. Adapun yang ketiga: Sesungguhnya malaikat memintakan ampun untuk mereka setiap hari dan malam. Sedangkan yang ke empat: Sesungguhnya Alloh 'Azza wa Jalla memerintah surga, Alloh berfirman kepada surga: 'Bersiap dan berhiaslah untuk para hambaku, sebentar lagi mereka akan beristirahat dari kepenatan dunia menuju rumah dan kemurahanKu. Adapun yang kelima: Sesungguhnya pada malam terakhir, mereka semua diberi ampunan." Kemudian salah seorang dari khalayak (yang hadir) berkata,: "Apakah ia adalah Laylatul Qodr?" Rasulullah lalu berkata: "Tidak, apakah kamu tidak memperhatikan para pekerja, jika mereka menyelesaikan pekerjaannya maka mereka akan diberi gaji mereka?" (HR. al Bayhaqi dari Sayyiduna Jabir bin 'Abdillah.)

Sedangkan dalam al Qur'an, ada janji yang begitu manis bagi orang-orang yang mau berpuasa Ramadhan. Alloh berfirman:

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي اْلأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

"Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS. Al Haqqah: 24)

Imam al Waki' dan yang lain berkata: "(Yang dimaksud dengan) hari-hari yang telah lalu adalah hari-hari puasa, karena di dalamnya mereka meninggalkan makanan dan minuman."

Pun dari segi medis, puasa sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Karena sumber segala penyakit bertempat di perut. Sedangkan dengan berpuasa, perut kita terlatih dengan jam makan yang teratur dan lebih mengurangi resiko terkena penyakit yang memang kebanyakan melewati makanan. Karenanya, sungguh benar apa yang dikatakan oleh Rosululloh:

صُوْمُوْا تَصِحُّوْا ( Berpuasalah kalian semua, niscaya kalian akan sehat )

Mengapa Tidak Berpuasa?

Setelah mengetahui begitu banyak keutamaan puasa Ramadhan bagi diri kita, baik bagi keduniaan maupun keakhiratan, pengampunan dosa-dosa yang setiap hari kita berkutat dengannya, belum lagi Lailatul Qodar yang ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah 1000 bulan (83 tahun), bahkan surga pun dijanjikan. Mengapa diantara kita masih ada yang sengaja meninggalkan puasa Ramadhan? Akankah kesempatan yang hanya berulang satu kali setahun ini kita sia-siakan? Padahal gelaran rahmat dan ampunan terbentang luas bagi kita yang tak bisa lagi dihitung kesalahan dan dosanya. Rosululloh pernah bersabda:

"Pahamilah, Ramadhan telah tiba, pada bulan ini pintu surga terbuka, dan pintu neraka pun ditutup, pada bulan ini pula setan dibelenggu. Kerugian besar bagi orang yang punya kesempatan bertemu Ramadhan namun ia tiada terampuni dosa-dosanya. Jika ia tidak diampuni pada bulan ini, lalu kapan lagi?" (HR. Ath Thabarani dari Sayyiduna Anas).

Puasa Ramadhan adalah sesuatu yang diwajibkan bagi kita selaku umat Islam, dan itu pun dengan tujuan agar kita dapat lebih bertakwa, lebih dekat dengan Sang Pencipta; Alloh subhanahu wa ta'ala. Alloh berfirman:

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqarah: 183)

Dan kerugian besar bagi mereka yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa adanya alasan agama yang membolehkannya. Karena satu hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan, tak tergantikan dengan pahala puasa sepanjang tahun. Dalam sebuah haditsnya, Rosululloh memperingatkan kita akan hal ini. Beliau bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللهُ لَهُ وَلاَ مَرَضٍ، لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ

"Barang siapa tidak berpuasa satu hari di bulan ramadhan tanpa ada keringanan yang diberikan Alloh untuknya dan tidak karena sakit, maka puasa setahun penuh tak akan dapat menggatikannya walaupun ia lakukan". (HR. Abu Dawud, an Nasa'i, at Turmudzi, al Bayhaqi, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaymah dari Sayyiduna Abu Hurairah)

Kerjakan dan Tinggalkan

Ramadhan adalah bulan bagi para hamba untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena ibadah wajib dibulan ini dilipat gandakan pahalanya menjadi tujuh puluh kali, sedangkan ibadah sunnah pahalanya disamakan dengan ibadah wajib di bulan-bulan yang lain.

Untuk mendapatkan pahala yang begitu melimpah, kita harus menyiasati waktu kita dengan baik, mengisinya dengan berbagai ibadah. Di dalam Ramadhan disunnahkan memperbanyak tilawah Qur'an, shodaqoh, memberi nafkah yang lebih kepada keluarga, berbuat baik kepada kerabat dan tetangga, tahajjud, i'tikaf (terutama pada sepuluh hari terakhir), dan do'a: Allohumma innaKa 'Afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.

Namun, selain itu kita juga harus dengan hati-hati menghindari tindakan-tidakan yang dapat menggagalkan pahala puasa kita menjadi beterbangan sia-sia, meninggalkan kita dengan tangan hampa. Dan diantara hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa adalah: berbohong, menggunjing, dan saling mencaci. Karena Rosululloh pernah bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan bohong dan tindakan bohong, maka Alloh tiada butuh, meskipun ia meninggalkan makanan dan minumannya." (HR. al Bukhari)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

"Bukanlah puasa itu hanya menahan makanan dan minuman. Tetapi puasa itu menahan dari perbuatan yang tiada berguna dan perkataan jorok."

Sebagian ulama salaf berkata: "Puasa yang paling mudah adalah meninggalkan makan dan minum." Sedangkan yang lain berkata: "Jika kamu berpuasa, maka jagalah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lidahmu dari kebohongan dan hal-hal haram lainnya, dan tinggalkanlah mengganggu tetangga." Imam al Auza'i berkata: "Puasa itu batal sebab kebohongan dan menggunjing. Karena hadits Nabi: 'Ada lima perkara yang bisa membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: kebohongan, menggunjing, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah bohong'". (HR. ad Daylami)

Yah, rugi sekali bila seharian kita menahan lapar dan dahaga, tetapi tak mendapat secuil pahala pun, karena kesalahan kita sendiri, yang mengabaikan aspek ruhani dari puasa itu sendiri. Patutlah kita renungkan sabda Rosululloh yang semenjak dulu mengingatkan kita:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ

"Banyak sekali orang yang berpuasa. Tapi tiada mendapatkan apapun dari puasanya kecuali rasa dahaga." (HR. an Nasa'i)

Ya Alloh... pandanglah kami dengan rahmat-Mu di bulan Ramadhan ini, jadikan ia lebih baik dari Ramadhan yang terdahulu, dan tutuplah bulan ini dengan samudra kemaafan bagi kami... Amiiin...

"Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah; 184)

Do'a-do'a di Bulan Ramadhan

Rosululloh pernah memerintahkan para sahabat beliau untuk memperbanyak 4 perkara dalam bulan Romadlon: yang dua menyebabkan Alloh ridho, yaitu: membaca syahadat dan istighfar. Sedangkan yang 2 lagi pasti kita membutuhkannya, yaitu memohon surga dan berlindung dari neraka. Oleh karena itu, kita juga disunnahkan untuk memperbanyaknya. Keempat perkara tersebut diucapkan dengan: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

رَسُوْلُ اللهِ، اَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Do'a berbuka:

۱- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلـٰهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ (۳×). أَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرْيِمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

۲- يَا عَظِيْمُ يَا عَظِيْمُ، أَنْتَ إِلَهِيْ لاَ إِلـٰهَ غَيْرُكَ، إِغْفِرِ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ إِلاَّ الْعَظِيْمُ.

Rosululloh bersabda: "Tiada seorang muslim berpuasa kemudian ketika berbuka mengucapkan... (do'a di atas), kecuali dia bersih dari dosanya sebagaimana ketika baru dilahirkan oleh ibunya."

Do'a orang yang berpuasa ketika berbuka adalah termasuk do'a yang mustajab, maka kita disunnahkan untuk memperbanyak do'a. Rosululloh bersabda,: "Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika berbuka memiliki do'a yang tak akan ditolak." (HR. Ibnu Majah dari Sayyiduna 'Abdulloh bin 'Umar).

Bacaan-bacaan untuk menyambut Lailatul Qadr (diperbanyak mulai awal Ramadhan)

۱- اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

Do'a di atas diajarkan oleh Rosululloh kepada istri beliau; Sayyidah 'Aisyah untuk menyambut Lailatul Qadr.

۲- اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَاْلعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ.

۳- لاَ اِلـٰهَ اِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ اْلعَظِيْمِ [۳×].

Rosululloh bersabda:"Barang siapa mengucapkan… (doa di atas) sebanyak tiga kali, maka ia laksana orang yang memperoleh Lailatul Qadr."

Disunnahkan pula memperbanyak membaca Ayat Kursi, karena Rosululloh juga bersabda: "Barang siapa membaca Ayat Kursi saat Lailatul Qadr, maka itu lebih disukai oleh Alloh daripada ia mengkhatamkan al Qur'an pada malam-malam selain Lailatul Qadr."

Ya Alloh… berilah kami taufiq untuk selalu mengerjakan perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, dengan barakah Rosululloh, amin…

Jumat, 31 Juli 2009

Surat Al-Ankabut dan laba-laba

Oleh : Husein Hamid Khered

Surat Al-ankabut adalah surat al-Makkiyyah kecuali ayat 1 sampai ayat 11 termasuk surat Al-Madaniyyah. Jumlahnya 69 ayat dan diturunkan sebelum surat Al-Muthaffifin dan sesudah surat Ar-Ruum. Isinya mengenai kisah perjuangan para Nabi dan Rasul dari nabi Nuh, nabi Huud, nabi Sholeh, nabi Luth , nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Ayyub serta nabi Syu'aib 'Alaihimus-Salam (ayat 14 sampai ayat 40). Sedangkan ayat 41 berbunyi : "Matsalul-Ladzinaa ittakhudzuuw min Duwnillah Awliyaa Kamatsalil-'Ankabuut- Ittakhadzat Baytaan wa Inna Awhanal-Buyuwti la baytu Al-'Ankabuut Law Kaanuw ya'lamuun." "Perumpamaan orang-orang yang menjadikan dari selain Allah sebagai penolong, sebagaimana perumpamaan laba-laba yang membuat sarang dan sesungguhnya paling lemahnya rumah adalah benar-benar rumah (sarang) laba-laba. (Q.S Al-Ankaabut : 69). Sedangkan laba-laba adalah seekor binatang melata dari kelompok Archinida dalam kelasa Insecta (serangga) yang memiliki 4 pasang kaki dan di ujung abdomen(perut)-nya dapat keluar jaring-jaring dan jaring-jaring tersebut difungsikan sebagai sarang atau rumah untuk menangkap mangsanya yang terjebak di jaringnya.Laba-laba juga dalah binatang yang pernah menyelematkan Rasulullah Shallahu' Alaihi Wassalam dan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radlillahu 'Anhu ketika hndak berhijrah ke kota madinah, tepat di gua Tsuur. Cerita singkatnya, dalam pengejaran kaum musyrikin Quraish, beliau berdua berlindung dan bersmbunyi ke dalam gua Tsuur, kemudian Allah Ta'ala mewahyukan kepada laba-laba untuk membuat sarang di mulut gua. Dengan adanya sarang tersebut, orang-orang Quraish yang sudah sampai pada gua dimana beliau bersembunyi, etrkecoh dan mengira bahwa beliau berdua tidak berada dalam gua, karena jaring- jaring laba-laba tersebut tidak robek. Sebagaimana Imam Al-Busyairi RHM berkata dalam untaian qashidah burdahnya : "Dhannul-Hamaamah wa dhannuwl 'ankabuuta 'Alaa ## Khoyril- Bariyyah lam Tansuj Wa lan Tahumi." " orang-orang kafir mengira bahwa merpati yang bersarang dan laba-laba yang merangkai rumah di mulut gua itu tidak melindungi makhluk mulia Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi Wassalam." Subhanallah, Maha suci Allah yang telah menciptakan laba-laba dan mengabadaikan namanya dalam kalam firman-Nya. Wallahu 'A'lam.

Minggu, 26 Juli 2009

Simbol-simbol Unggas dalam kehidupan manusia

Oleh : Husein Hamid Khered

Kalau kita mau bertafakkur dan merenungkan ciptaan Allah Ta'ala. Misalkan : kelompok unggas (Aves), kelompok binatang Vertebrata yang memiliki bulu-bulu yang cukup tebal dan termasuk hewan berdarah panas, Sebagian besar binatang unggas memiliki kedua sayap yang berfungsi sebagai alat untuk terbang tau berenang di perairan. Namun ada juga sebagian yang digunakan untuk menarik pasangan jenisnya atau menunjukkan kekuatan terhadap lawan atau musuhnya. Sifat dan perilaku yang melekat dari setiap jenis unggas berbeda-beda, hal tersebut memberikan indikasi dan pelajaran bahwa setiap manusia memiliki watak atau karakter atau sifat yang berbeda-beda. Sebagian unggas ada yang memberikan gambran atau simbol dari sifat baik maupun sifat jelek yang melekat pada diri manusia. Kita mulai dari binatang yang sering kita kenal dan makan, ayam jago disimbolkan pada seorang pria adalah pria yang maniak sex atau senang menikah, sedangkan ayam betina disimbolkan pada seorang wanita adalah wanita rendahan, yang mudah gonta-ganti pasangan. Burung merepati atau dara adalah simbol dari teman yang jujur atau wanita cantik yang penuh barokah. Burung Al-Hubaro (burung sejenis merpati, berleher panjang, sebagian paruh berwarna kelabu) adalah simbol dari laki-laki yang dermawan. Burung puyuh adalah simbol wanita yang tidak punya kasih sayang. Bebek atau itik adalah simbol dari orang yang tidak memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya (Ad-Dayyus). Burung tekukur merupakan simbol wanita yang beragama. Burung Derkuku adalah simbol dari perempuan yang jujur. Burung Murai adalah simbol dari anak yang cerdas. Burung onta adalah simbol dari orang yang bisu. Burung Tiung adalah simbol dari laki-laki yang tidak kaya dan tidak miskin (pas-pasan) atau orang yang mencampuradukkan amal yang baik dan amal yang buruk. Burung jenjang adalah simbol dari laki-laki yang miskin. Burung gagak adalah simbol dari orang yang mengejar harta benda dengna cara yang haram atau para pecinta harta.Burung elang adalah simbol dari orang tamak atau rakus. Burung branjangan adalah simbol dari orang yang riya' atau pamer.Burung hantu adealah simbol dari orang yang licik atau penguasa yag berwibawa. Burung betet adalah simbol dari orang yang senang berbohong atau pembohong.Burung rajawali adalah simbol orang yang senang kepada jabatan atau kekuasaan dan burung merak adalah simbol dari orang yang sombong. Subhanallahu, " Maha suci Allah", yang telah menciptakan bangsa unggas sebagai pembelajaran dan memiliki maksud dan tujuan di balik penciptaan-Nya bagi orang -orang yang menggunakan akal dan hati secara bik dan benar. Maka, marilah kita bercermin dan berkaca pada bangsa unggas. Saatnya kita menata hati dengan membuang sifat-sifat yang buruk dalam diri kita dan menambahnya dengan sifat-sifat yang baik. Wallahu A'lam.