Inovasi Santri Ngelmu

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah walhamdulillah wassholatu wassalaamu 'ala rosulillah...
Kawan...jangan capek ya!
Wassalam...

Laman

Minggu, 06 September 2009

Mitsalu Na'lil Mushthofa  Gambar Sandal Rosululloh al Mushthofa; Tanda Cinta, dan Keajaiban Dibalikny

Oleh : Muhammad Hifny Mubarak

Gambar di samping adalah gambar dari sandal Rosululloh .
Tapi, sebelum kita membicarakannya, kita bahas terlebih dahulu tentang bentuk sandal Rosululloh :
Sandal beliau  terbuat dari kulit sapi yang sudah tidak ada bulunya, berlapis-lapis dan dijahit, mempunyai lekuk tapak kaki, dan berbentuk seperti lidah, mempunyai tumit, dan berwarna kuning. Sandal beliau pun mempunyai dua tali pengikat, salah satunya berada antara ibu jari dan telunjuk kaki beliau, sedangkan yang lain berada di antara jari tengah dan jari manis beliau.
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Umar , bahwa beliau memakai sandal as Sibtiyyah, yaitu sandal kulit yang sudah tidak ada bulunya, dan beliau berkata,: “Sungguh aku melihat Rosululloh  memakai sandal yang tidak ada bulunya, dan beliau berwudhu dengannya, maka aku pun senang untuk memakainya.” (Wasa”ilul Wushul, hal. 128).
Dari beberapa nama Rosululloh  yang tertulis dalam kitab-kitab terdahulu adalah Shohibun Na’laini (pemilik dua sandal), sebab memakai sandal adalah kebiasaan orang Arab. Beliau memiliki dua sandal, dan delapan khuf (sepatu kulit). Beliau berjalan dengan memakai sandal dan kadang juga tidak memakai sandal, tak terkecuali bila beliau berangkat ibadah, dengan tawadhu’, dan beliau sholat di atas sandal beliau yang keduanya dalam keadaan suci. Dalam beberapa tempo beliau membawanya dengan telunjuk jari kiri beliau. Sedangkan yang bertugas (berkhidmah) untuk membawanya adalah sahabat Ibnu Mas’ud , beliau menaruh kedua sandal tersebut pada lengannya ketika Rosululloh  melepasnya dan menyuguhkannya kembali pada Rosululloh  jika akan dipakai. Jika memakainya, Rosululloh  mendahulukan bagian kanan, dan mendahulukan bagian kiri ketika melepasnya. Bila beliau duduk untuk berbicara, maka beliau melepas sandalnya. Beliau juga melarang kita berjalan dengan memakai satu sandal saja.
Gambar sandal tersebut dibuat oleh Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy, seorang pecinta sejati Nabi  yang menghabiskan umurnya untuk berkhidmah di bidang tulis menulis yang berhubungan dengan Rosululloh . Gambar tersebut beliau nukil dari kitab Fathul Muta’al karya al-‘Allamah Ahmad al-Muqriy, yang berasal dari ulama terdahulu, dan telah direkomendasikan oleh para ulama dan huffadh seperti as-Suyuthi, as-Sakhowiy, dan ad- Daimiy. Walaupun hanya berupa gambar, tapi karena pemilik sandal ini adalah pemimpin para Rosul, maka gambarnya pun banyak sekali memiliki barokah. Syeikh Yusuf an-Nabhaniy menukil beberapa faidah dari gambar sandal Rosululloh  ini yang telah diteliti dan dicoba oleh ulama terdahulu dari Imam al-Qusthullaniy dalam al-Mawahib al-Laduniyah, dan Syeikh Ahmad al-Muqriy dalam Fathul Muta’aal, sebagai berikut:
1. Orang yang membawanya dengan mengharap barokahnya (tabarruk) maka akan selamat dari gangguan pengacau, dan lawan. Juga mendapatkan penjagaan dari setiap setan yang senang menjerumuskan manusia, dan dari bahaya a’in (pengaruh jelek mata) orang yang hasud.
2. Bila wanita hamil membawanya di tangan kanannya ketika akan melahirkan, maka proses melahirkan akan digampangkan, bi haulillah wa quwwatihi.
3. Mendapatkan penjagaan dari sihir.
4. Orang yang selalu membawanya akan diterima di masyarakat, dan akan dapat menziarahi Rosululloh  dan melihat beliau  dalam mimpi.
5. Bila tentara membawanya, maka pasukannya akan menang. Bila dibawa bepergian (baik darat maupun laut), maka akan selamat. Jika ditaruh dalam rumah, maka rumah tersebut tidak akan terbakar. Jika ditaruh dalam barang dagangan, maka barang tersebut tidak akan dicuri.
6. Bila kita bertawassul dengan pemilik sandal ini (Rosululloh ) untuk suatu hajat, maka hajat kita akan dikabulkan. Atau untuk suatu kesempitan (masalah), maka akan diberi jalan keluar. Atau pada orang yang sakit, maka ia akan sembuh.
7. Dan orang yang menaruh gambar tersebut di atas kepalanya, maka Alloh  akan memenuhi apa yang dicita-citakannya.
Keistimewaan itu semua dapat dicapai dengan syarat kuatnya iman (mantap). Salah satu kisah tentang barokah gambar ini adalah: Abu Ja’far Ahmad bin Abdil Majid (seorang syaikh yang sholeh) memberikannya pada seorang murid. Kemudian murid tersebut mendatangi dan berkata pada beliau,: “Tadi malam aku menyaksikan barokah yang sangat menakjubkan dari gambar ini. Istriku tertimpa penyakit parah yang hampir membuatnya meninggal, kemudian aku menaruh gambar tersebut di tempat yang sakit dan berkata,: ‘Ya Alloh, perlihatkan kepadaku barokah pemilik sandal ini (Rosululloh ).’ Akhirnya Alloh  menyembuhkannya seketika.” (Lihat Wasa’ilul Wushul hal. 130).
Gambar yang dibuat oleh Syeikh Yusuf bin Ismaa”iil an-Nabhaniy ini merupakan gambar yang paling benar, diantara tiga gambar yang ada (sebelumnya). Pun dalam sebuah mimpinya, beliau mendapatkan bisyaroh (kabar gembira), seperti yang beliau tulis dalam kitabnya Sa’adatud Darain: (Mimpi ke sembilan): saya bermimpi setelah mencetak Mitsalun Na’lis Syarif, setelah Shubuh hari selasa tanggal 11 Sya’ban 1315 H, bahwa saya berangkat haji, dan saya melihat tempat yang sering dikunjungi orang-orang, yang dibangun dari batu, dan di dalamnya terdapat batu yang diatasnya terdapat bekas kaki Rosululloh , bangunan tersebut memang dibuat agar orang-orang menziarahi dan mengalap barokah dengannya. Maka terbersit di hatiku bahwa sayalah yang membangun tempat tersebut, maka aku pun menciumnya dan berdo’a,: ‘Ya Alloh, saya bertawassul kepada-Mu dengan pemilik jejak kaki ini , berilah aku haji yang maqbul.’ Maka aku pun terbangun dan menakwili mimpi ini dengan benar dan sesuainya gambar yang aku buat dengan sandal Nabi , wal hamdu liillahi robbil ‘alamin. (lihat hal. 481).
Beliau juga menulis: (Mimpi ke tiga): “Saya bermimpi melihat Rosululloh  setelah mimpi yang kedua dengan jarak sekitar 5 bulan, juga setelah fajar, keadaan beliau putih bersinar sebagaimana mimpi sebelumnya. Dan dalam mimpi ini, saya melihat ada dua pena di depan beliau, salah satunya berupa ruas kayu yang masih utuh belum diraut, dan yang lain telah berkurang, tinggal seukuran lima biji, dan telah diraut dengan rautan yang tidak lurus. Maka di hatiku timbul keinginan untuk meminta pena yang kedua karena beliau sudah tidak membutuhkannya lagi, tujuanku agar aku bisa berwasiat untuk menaruhnya dalam kuburku bila aku mati untuk dapat membelaku. Tapi aku malu memintanya dari beliau  secara terang-terangan, sehingga aku pun berbasa-basi dahulu agar aku dapat memintanya. Aku berkata pada beliau ,: “Apakah ini pena Anda?” Beliau pun menjawab,: “Ya, apa yang engkau inginkan darinya?” aku pun berkata,: “Aku ingin Anda memberikannya padaku, agar ia dikubur bersamaku dalam makamku kelak”. Maka Rosululloh  berkata - dan aku sudah merasa bahwa beliau akan memberikannya,: “Engkau dikubur di dalam As-Syaikh Sa’iid”. Aku pun terbangun walhamdu lillahi Robbil ‘alamin, dan dalam hatiku terbesit bahwa ada pemakaman yang bernama as-Syaikh Sa’iid. Aku pun kemudian menceritakan mimpi ini pada salah satu temanku yang sholeh, dan dia berkata,: “As-Syaikh Sa’iid adalah engkau, dan pengakuan ini dari Rosululloh , mengisyarohkan pada ucapanmu di akhir Mitsalun Na’lis Syarif:
سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِدْمَةِ نَعْلِهِ 
وَ انَا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهَا
Sahabat Ibnu Mas’ud telah beruntung karena mengabdi pada sandal al Musthofa * Dan akulah orang yang beruntung karena pengabdianku pada gambarnya.
Maka aku pun gembira dengan takwil ini, semoga Alloh Ta’ala menjadikannya sebagai kenyataan. (Lihat hal. 479, dengan peringkasan).
Maa syaalloh la quwwata illa billah. Saudara-saudaraku, dengan penuh kecintaan, kerinduan, dan pengagungan pada Rosululloh , semoga Alloh  juga memberikan barokah Rosululloh  dan Mitsalun Na’lis Syarif ini kepada kita, sebagaimana yang Alloh  berikan pada Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy dan ulama terdahulu, amiin.
(Amm Muhammad Fatih Nabhaniy)

Sumber: Sa’adatud Darain, as-Syaikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy , hal. 493-495, 479, dan 481, cet. Darul Fikr Lebanon. Lihat Juga karya beliau: Wasaa’ilul Wushul ilaa Syama’ilir Rosul , hal. 128-131, cet. Darul Minhaj, Lebanon).
Gambar sandal Rosululloh karya Syeikh Yusuf an Nabhaniy ini juga dapat Anda temui dalam kitab adz Dzakhooir an Nabawiyyah, karya Abuya as Sayyid Muhammad bin ‘Alawiy al Malikiy al Hasaniy .

Beberapa Syair Tentang Na’lul Musthofa dan Mitsalu Na’lil Musthofa


Dalam gambar yang dibuat Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhaniy terdapat beberapa bait syair, tetapi ada beberapa kalimat yang kemudian beliau perbaiki sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitab Sa’aadatud Darain:
مِثَـالٌ حَكَى نَعْلاً ِلأَفْضَلِ مُرْسَلِ  تَمَنَّتْ مَقَـامَ التُّرْبِ مِنْهُ فَرَاقِدُ
ضَرَائِرُهَا السَّبْعُ السَّمٰوَاتِ كُلُّهَا  غَيَارَى وَ تِيْجَانُ الْمُلُوْكِ حَوَاسِدُ
Inilah gambar yang melukiskan sandal utusan Alloh yang termulia * karenanya, bintang kutub utara berandai untuk menjadi tanah (tempat sandal itu berpijak).
Saingannya, seluruh langit tujuh cemburu * dan mahkota para raja pun mendengki.
عَلَى رَأْسِ هٰذَا الْكَـوْنِ نَعْـلُ مُحَمَّدٍ 
عَلَّتْ فَجَمِيْعُ الْخَلْقِ تَحْتَ ظِلاَلِهِ
لَدَى الطُّوْرَ مُوْسَى نُوْدِيَ اخْلَعْ وَ أَحْمَدٌ 
عَلَى الْعَرْشِ لَمْ يُؤْذَنْ بِخَلْعِ نِعَالِهِ
Di atas kepala semesta sandal Muhammad  bertahta * Maka seluruh ciptaan berada di bawah naungannya.
Tatkala di gunung Thur, Musa dipanggil,: ‘Lepaslah sandalmu’ * Dan di atas Arsy, (sebagai penghormatan) Rosululloh  tak diperkenankan untuk melepas sandalnya.
مِثَالٌ لِنَعْلِ الْمُصْطَفَى مَا لَهُ مِثْلُ  لِرُوْحِيْ بِهِ رَاحٌ لِعَيْنِيْ بِهِ كُحْلُ
فَـأَكْرِمْ بِهِ تِمْثَالَ نَعْلٍ كَرِيْمَةٍ  لَهَا كُلُّ رَأْسٍ وَدَّ لَوْ أَنَّهُ رِجْلُ
Inilah gambar sandal al Musthofa yang tiada bandingnya * Karenanya ruhku memperoleh ketenangan dan mataku beroleh celak (yang mendinginkan).
Maka betapa mulia gambar sandal ini * Untuknya seluruh kepala berkeinginan untuk menjadi kaki.
وَلَمَّا رَأَيْتُ الدَّهْرَ قَدْ حَارَبَ الْوَرَى  جَعَلْتُ لِنَفْسِيْ نَعْلَ سَيِّدِهِ حِصْنَا
تَحَصَّنْتُ مِنْهُ فِيْ بَـدِيْعِ مِثَـالِهَا  بِسُوْرٍ مَنِيْعٍ نِلْتُ فِيْ ظِلِّهِ اْلأَمْنَا
Dan ketika kulihat masa telah memangsa manusia * Kujadikan sandal junjungannya sebagai benteng perisai diri.
Aku berlindung dari masa dalam keelokan gambarnya * Dengan pagar pencegah kuperoleh keamanan di bawah naungannya.
إِنِّيْ خَدَمْتُ مِثَالَ نَعْلِ الْمُصْطَفَى  ِلأَعِيْشَ فِي الدَّارَيْنِ تَحْتَ ظِلاَلِهَا
سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِـدْمَةِ نَعْلِهِ  وَ انَـا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهَا
Sungguh aku mengabdikan diri pada gambar sandal al Musthofa * Agar aku hidup di dunia dan akhirat di bawah naungannya.
Sahabat Ibnu Mas’ud telah beruntung karena mengabdi pada sandal al Musthofa * Dan akulah orang yang beruntung karena pengabdianku pada gambarnya.
(As Syaikh Yusuf bin Ismaa”iil an Nabhaaniy )
Dan duhai betapa indah perkataan Imam Abu Bakr al Qurthubiy rohimallohu Ta’alaa:

وَ نَعْلٍ خَضَعْـنَا هَيْبَةً لِبَهَائِهَا  وَ إِنَّا مَتَى نَخْضَـعْ لَهَـا أَبَدًا نَعْلُوْ
Dan sandal yang kita merendahkan diri dengan memuliakan karena keelokannya, dan sesungguhnya bila kita merendahkan diri padanya, maka selamanya kita akan terangkat mulia.
فَضَعْهَا عَلَى أَعْلَى الْمَفَارِقِ إِنَّهَا  حَقِيْقَتُهَا تَاجٌ وَ صُـوْرَتُهَـا نَعْلُ
Maka letakkanlah ia di atas kepala (tempat belahan rambut), karena sungguh dalam hakikatnya ia adalah mahkota, walaupun sandal adalah bentuknya.
بِأَخْمَصِ خَيْرِ الْخَلْقِ حَازَتْ مَزِيَّةً 
عَلَى الـتَّاجِ حَتَّى بَاهَتِ الْمَفْرِقَ الرِّجْلُ
Karena (dipakai) lekuk telapak kaki makhluk terbaik , sandal itu memperoleh keistimewaan di atas mahkota, hingga kaki pun berwibawa mengalahkan kepala.
شِفَاءٌ لِذِيْ سُقْمٍ، رَجَـاءٌ لِبَائِسٍ 
أَمَانٌ لِذِيْ خَوْفٍ، كَذَا يُحْسَبُ الْفَضْلُ
Dialah pengobat bagi orang yang terjangkit penyakit, harapan bagi yang terlantar, keamanan bagi yang ketakutan, begitulah dihitung keutamaannya.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّهُمَّ بِهِمْ بَلِّغْ شَوْقِيْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ،
دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ... دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ... دَرْكًا يَا رَسُوْلَ اللهِ...
وَأخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Tidak ada komentar: