Masih teringat betul di benakku malam-malam itu, saat semua terlelap.
Kita dengan mata sayup menahan kantuk, mencoba merangkai tawa di tengah kesenyapan.
Memelototkan mata kita di depan mesin ketik, bertak-tok tak-tok ria, di sebuah kantor tua yang retak di sana-sini.
Sebelum kedatangan sang kotak ajaib, yang makin membuat kami berbinar dalam sinar.
Aku tak mengira, hari-hari itu berlalu, melambaikan tangan dan makin menjauh dariku.
Bersamaan dengan itu, siluet-siluet yang dulu menemaniku mengusir kantuk, melukis kenangan.
Aku berdecak kagum, ku coba menggiringnya di padang khayalanku.
Mengenang malam-malam itu.
Di atas kertas-kertas bekas, kita tuangkan setermos penuh kopi imajinasi kita, membasahi papan tua, setiap malam, sembari diiringi sebungkus senyum.
Hingga bermetamorfosa menjadi elang jingga yang terbang membumbung.
Berlalu dan terus berlalu.
Dulu selalu kubayangkan, kita tak akan pernah berpisah, selalu bersama, dengan hati terajut erat benang cinta.
Namun, ah..jika para sahabat sepeninggal Rasul saja terberai di pelbagai sudut kota, apalagi kita?
Satu persatu kita hengkang, meninggalkan sejuta kenangan, roda harus berputar.
Walau, raga kita tidak bersama, tetapi aku yakin, sangat yakin, jiwa kita satu, dalam sebuah cahaya yang semakin benderang.
Kubayangkan, suatu saat nanti, selalu kuharap, di saat wajah kita telah berkerut, rambut kita beruban, tangan kita mengkeriput. Kita bisa berjumpa lagi, mengulangi malam itu, dengan canda tawa, sebungkus biskuit, tanpa diiringi segelas air.
Menyatukan kembali, cinta kita, yang terpisah oleh ruang dan waktu.
Dan aku yakin, atas kuasa-Nya, ijin-Nya, suatu saat, kita akan bersua lagi, insya Alloh (*)
yek husin, mas hif, ahmad, zabid, hajir, moh, najib, amruddin.. Selamat berjumpa lagi d dunia maya, redaksi addliya' are comeback
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar