Meralat Kisah, Menatap Langkah…
“Nanti belok ke mana?”
“Oh itu… nanti setelah perempatan, kita belok kanan.”
“Oke…” Sesaat setelah itu… di perempatan si supir membelokkan kemudinya.
“Kita belok kanan kan?”
Yang aku tahu, setelah perempatan, bukan di perempatan, aku tadi bilang apa ya? Apa aku yang salah? -bisikan hati-
Setelah lama dan jalan memang tak ada tembusannya…
“Kita kok mumet-mumet ya?”
“Engh... anu, tadi kita ke kanan kan? Bukan ke kiri?”
“Iya, emang kenapa? Salah?”
“Gak, kalau ke kanan udah bener”
“Ya udah, tapi kok belum ketemu ya tempatnya?”
“Udah bener, ke kanan kok” suara dari belakang jok kemudi
“Tuh kan bener” kataku, tapi di dalam hati, kelu lidah ini, karena seharusnya setelah perempatan bukannya di perempatan lagi.
Setelah bertanya pada tukang ojek, ternyata kita salah jalan… !!!
***
Ralat Bukan Hanya di Majalah Lho…
Tuh, sobat Dliya… Sepenggal cerita di atas mungkin gak akan terjadi kalau saja si penunjuk jalan mau meralat perkataannya. Dan mestinya kalo mau hanya putar balik sedikit saja, maka si penunjuk jalan dan rombongannya gak akan menghabiskan waktu dan yang lainnya. Namun karena tak mau meralat dan cenderung merasa benar karena ada yang mendukung, maka jalan yang ditempuh pun jadi lebih jauh.
Yah, sebegitulah pentingnya meralat, sobat Dliya. Namun hal itu sangat sulit dilakukan di dalam dunia nyata, lebih mudah kalo di majalah atau koran, karena mungkin bisa dibilang bisnis. Sedang dalam diri kita? Kita nggak menganggap itu bisnis, tapi kesenangan belaka. Padahal kalo mau meralat diri, itu lebih menyenangkan dan menenangkan hati lho. Yah, karena banyak dari kita belum tahu arti bisnis kehidupan dengan Alloh sih, jadinya...
Ralat n Tanggung Jawab Kita
Sering banget khan kita dengar kata ‘ralat’? Tapi udah ngerti nggak akan maksudnya?
Sobat Dliya, ralat bisa diartiin sebagai sebuah upaya memperbaiki sesuatu yang salah. Nah, tujuannya agar kesalahan itu nggak berlarut-larut dan memunculkan efek samping. Misalnya nih, sebuah kesalahan dalam karya tulis yang sudah beredar luas. Perlu diralat tuh.
Dan sebagai manusia sosial yang bermasyarakat, ternyata kita juga butuh banget dengan pembenahan prilaku semacam ralat. Pasalnya, kadangkala ketika kita masih dalam kondisi salah, ada individu-individu lain yang melakukan kesalahan serupa dengan dalih kesalahan kita sebagai kiblat. Payah khan? Contoh terdekatnya, kesalahan kita yang kemudian ditiru oleh adik-adik, teman kita atau fans kita hehe.
Nah, kalo kita memang mau perhatian, kita pun bakal tahu kalo itu semua adalah tanggung jawab kita. Khan, selain kita memang diwajibkan untuk meluruskan kesalahan pribadi, kita juga berkewajiban menolong saudara kita yang terjerumus dalam kesalahan serupa lo. Ingat khan dengan wata’awanuu alal birri wattaqwa, walaa ta’awanuu alal itsmi wal ‘udwaan…? Yap, kita memang diperintahkan tuk saling menolong dalam kebaikan, bukannya dalam kejelekan. Dan meralat diri serta lingkungan inilah contohnya.
Alasan penting lainnya adalah, seandainya besok saat sidang akhirat digelar, saudara kita (yang jadi terdakwa) bakal berdalih kalo tindakan salahnya itu karena kita. Kalo sudah gitu, kita nggak bakal bisa berkutik dan berdalih, “Salah sendiri menjiplak kesalahan orang”. Coz, memang kita kudu meluruskan kesalahan saudara kita. Bukankah ini juga salah satu bukti akan kesempurnaan iman?
Menunggu Keberanian
Mungkin seperti di iklan-iklan, meralat diri juga butuh keberanian lo, tanpa tanggung-tanggung meskipun sedikit. Banyak khan iklan yang isinya muluk-muluk, tapi gak sedikit, bahkan mungkin kesemuanya, ada semacam peringatan kecil atau informasi kecil di sudut kanan atau kiri TV, kadang juga setelah iklan itu selesai, muncul “Bila sakit berlanjut, hubungi dokter”.
Memang sobat Dliya, meralat diri butuh banget akan keberanian. Keberanian untuk mengakui kesalahan. Dan di kala itu pula, rasa gengsi pun dipertaruhkan. Hingga kalo memang kita nggak berani atau gengsi mengakui kesalahan, usaha untuk meralat dan memperbaiki diri pun akan nol hasilnya. Padahal kalo kita mau mikir, apa sih arti gengsi jika kita terus-menerus dihantui bayang salah? Jadinya malah “Gak Baik Ya?”
Kegengsian ini bisa makin parah kalo nama kita udah begitu melambung. Citra bahwa diri kita adalah orang yang sangat baik, dengan derajat yang begitu tinggi di sisi Alloh bisa jadikan enggan sekali ngeralat sebuah tindakan yang udah terlanjur salah, bahkan hanya sekedar meralat pernyataan yang keliru. Yah, kebanyakan dari kita lebih milih ngebela nama baik daripada nyelamatin orang banyak. Meskipun kita sadar kalo tindakan kita yang salah itu seringkali dianggap oleh orang lain adalah benar, dan mungkin juga orang lain itu bakal mengaplikasikan tindakan atau pernyataan kita dalam kehidupannya. Kalo udah gini, berarti kita punya andil besar terhadap tindakan salah mereka dong. Na’udzu billah min dzalik.
Maka mau nggak mau, kita kudu beranikan diri untuk segera mengklarifikasi tindakan atau pernyataan kita agar nggak berlarut-larut terjatuh dalam kondisi salah.
But, sekali lagi hal ini memang berat. Makdarit, kebanyakan dari kita cuma bisa intropeksi diri di heningnya malam, mentok di sini aja. Kita hanya nyesali kesalahan kita, tapi nggak lantas mengklarifikasi tindakan kita ke khalayak umum.
Nah, kalo kita memang pengen meralat diri, kita kudu berani menyeret diri sendiri dari lembah gengsi yang bisa jadikan seseorang berkutat terus pada kesalahan. Tinggal kita nih, mau jadi orang bodoh yang terus tenggelam dalam kesalahan atau orang cerdas yang mau berusaha keras memperbaiki diri?
Jangan Malu !!!
Selain gengsi dan nggak berani, mungkin malu yang kebanyakan jadi alasan untuk enggan meralat diri. Tapi apa benar sifat yang nyebabin keengganan ini dinamakan malu?
Enggak sob, malu bukanlah seperti itu. Lebih tepat kalo sifat ini diberi titel Jubn (kepengecutan). Coz, untuk masalah kebenaran, nggak ada istilah malu lagi !!! Inget selalu… “…dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar...(Q.S. al ahzab 33:53)”. Meralat diri adalah suatu kebenaran. Perlu dipegang kuat-kuat juga qulil haqqo walau kaana murron, ucapkan dan ungkapkan yang benar walo itu pahit terasa.
Sebenarnya, pahit yang dihasilkan kejujuran itu nggak sebanding kok dengan manisnya. Manisnya kejujuran akan lebih indah terasa kalo memang kita punya komitmen untuk itu. Dan sebenarnya kita tahu dan ngerti teori-teori bagaimana sih rasa pahit dan manis saat jujur. Hanya saja kita sendiri yang menodai manisnya kejujuran itu dan hanya melihat dari sisi pahitnya saja, dengan nggak mau mengutarakan kejujuran itu. Ralat… kelihatannya memang kelu di lidah, tapi hal itu lebih kelu di hati jika tak pernah keluar, dan akhirnya akan menjadikan kita kaku untuk selamanya.
Yuk, pandai-pandai mencari dan mengakui celah dalam diri, sobat. Maka kita akan bisa dengan mudah dan tak merasakan pahit saat mengungkapkan perkataan ataupun perbuatan kita yang terlanjur salah.
Meralat Diri Itu Bukan Umbar Dosa, Tapi Setingkat Lebih Dewasa
Yakin kan kalo Alloh adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang?
Nah, buat yang belum tahu, Den Dliya kasih tahu nih… Bila kita mau menutupi dosa kita pada orang lain, nggak tambah bangga dan mengumbarnya, maka Alloh pun juga akan menutupinya. Efeknya nih, nanti di akhirat kelak, malaikat pencatat amal akan kelimpungan mencari-cari kesalahan kita yang ternyata sudah dihapus secara ajaib dari buku amal kita. Dengan catatan: kita udah tobat (nggak mengulanginya lagi) dan memperbanyak minta ampun pada Alloh. Kebalikannya, kalo kita malah mengumbar dosa kita, nggak merasa risih bila dilihat orang lain, wah… payah tuh. Ini yang dinamakan mujahir. Dalam sebuah hadits, Rosululloh bersabda yang artinya,: “Semua umatku dimaafkan kecuali para mujahir. Dan sesungguhnya termasuk tindakan mujaharoh adalah bila seseorang melakukan suatu tindakan jelek di malam hari, kemudian esoknya Alloh telah menutupi kejelekannya. Namun ia (malah membeberkan dengan) berkata,: ‘Tadi malam aku melakukan ini… dan begini… Di waktu malam ia telah ditutupi oleh Tuhannya, namun di waktu pagi, ia sendiri yang menyingkap tutup kemaafan Tuhannya dari dirinya sendiri”.
Namun kudu dibedakan lo antara mujahir dosa dan meralat diri. Mujahir atau meng-expost dosa kita ke khalayak umum adalah terlarang, sedangkan meralat diri adalah merupakan tahap kedua dari upaya kita untuk intropeksi diri.
Bila memang kita dituntut untuk mempublikasikan (mengumumkan) kesalahan kita agar tidak ada orang lain yang meneruskan dan meniru kesalahan itu, ya itu memang cara yang baik dan bijaksana. Namun perlu digaris bawahi juga, ralat di sini dilakukan buat kesalahan yang udah tersebar dan menimbulkan dampak buruk pada masyarakat. Coz, bila kita hanya bertobat secara personal aja, dan kesalahan itu tetap ditiru oleh orang lain, maka kelak di persidangan akhirat kita bakal dituntut oleh orang yang meniru itu. So, tindakan yang paling bijaksana di kala itu adalah meralat diri dan meralat lingkungan kita.
Segeralah Beraksi…
Sobat, kebenaran tuh cuma satu, maka setelah kita menyadari yang sebenarnya, adalah tugas kita untuk segera memakainya. Terus cara ngeralat diri itu gimana?
Jelas yang pertama; harus sadar kalo kita salah, lalu menyesali, dan berusaha untuk nggak mengulanginya lagi. Tentunya setelah itu, lanjutkan aksi kamu dengan realisasi di tengah masyarakat, bila memang kesalahan itu ada hubungan dan efeknya dengan orang banyak. Caranya, ganti tindakan dan prilaku kita yang salah secara kontinyu (terus menerus), agar khalayak umum tahu kalo kita yang kemaren adalah salah. Dan tentunya jangan coba-coba lagi meneruskan kesalahan yang sudah diluruskan, sia-sia khan jadinya?
Lalu, kalo memang dituntut untuk mempublikasikan, maka kita harus berani maju untuk itu. Apalagi kalo kesalahan kita itu tanpa atau dengan sengaja ditiru oleh orang lain dan berakibat fatal dan berdampak sangat besar. Misalnya aja seseorang yang habis melakukan pengeboman yang menewaskan beberapa orang tidak bersalah. Lalu banyak yang mengira tindakan itu adalah sebuah jihad fi sabilillah, dan akhirnya banyak sekali orang-orang yang simpati kepada kita dan meniru tindakan kita. Wah, wajib tuh diklarifikasi lewat media massa, mengadakan konfrensi pers dengan mengundang wartawan, atau kita umumkan di khalayak umum lewat pidato, media televisi, radio de el el. Khan dampaknya sangat besar. Nah, dengan cara itu, secara tidak langsung bisa juga untuk mempromosikan sebuah kebenaran.
Meralat dan memperbaiki diri adalah sebuah rahmat bagi umat Rosululloh . Bukankah kita telah dibukakan lebar-lebar kesempatan untuk memperbaiki diri? Lalu kenapa tidak kita pakai dan segera beraksi?
Nggak Harus yang Salah, yang Baik Juga !!!
Emang sich, ralat tuh identik dengan kesalahan. Dan jarang sekali kita ngelihatnya dari sisi yang lain. Padahal kalau kita mau sedikit melihat akan tujuan ralat itu sendiri (untuk menghasilkan kebaikan), maka ralat itu nggak hanya fokus pada hal-hal tertentu. Bisa berhubungan dengan yang jelek, yang sudah baik, sedikit baik, atau mungkin masalah yang gak baik dan gak jelek.
Kebanyakan orang, nggak menyadari kalo hal-hal yang baik itu juga perlu diralat. Mungkin anggapan mereka yang perlu diralat adalah yang salah-salah saja. Jadinya ya kayak gitu, kita-kita, gak bisa diajak maju.
Sang Hujjatul Islam, Imam al Ghozali pernah berkata yang intinya, kalo kita udah berbuat baik, kita masih perlu waspada lo. Soalnya berbuat baik itu sulit banget, dan gak sembarang orang bisa melakukannya. Trus, ada juga khan kemungkinan di dalam kebaikan itu ada maksud tersembunyi. Padahal kita tahu, lawan kita untuk melakukan kebaikan itu tangguh dan banyak. Diantaranya adalah; hawa nafsu, setan, dan manusia di sekeliling kita. Nah, sebagai manusia biasa, kita adalah obyek yang sulit untuk lepas dari ikatan lawan–lawan tadi, kecuali kalo kita dapat pertolongan dari Alloh. Dan sang Imam menganjurkan juga kepada kita untuk selalu tidak menganggap amal baik kita sebagai amal baik. Coz, kebanyakan orang maghrur (terpedaya) itu adalah mereka yang selalu mengedepankan amal baiknya, gak tahu kalo dia bisa melakukan itu toh semata-mata karena kehendak Alloh. (Baca juga Qousu Quzah; Jadi Hanafi).
Contohnya aja tentang syukur. Dalam al Qur”an, Alloh telah menyatakan bahwa orang yang mau bersyukur akan dijanji oleh-Nya, ditambahkan nikmatnya. Nah, padahal dalam konteks ini kita hanya disuruh bersyukur dengan kadar syukur yang kita mampu, bukan sepenuhnya bersyukur yang dimiliki oleh orang-orang sholeh. Kalau sudah gitu, kita tahu, mengakui, dan benak hati kita berkata, bahwa kadar syukur kita sangatlah kurang. Namun, Alloh kok sudah nambah nikmat kita ya? Wah, gimana perasaan kita sama Alloh, kok Alloh begitu baiknya sama kita? Eits, tapi kita tetap kudu berusaha untuk bisa bersyukur kayak bersyukurnya orang-orang sholeh lho. Dan kalau kita dah bisa seperti beliau-beliau, pasti Alloh akan makin menambah nikmat-Nya pada kita, menjadi nikmat yang lebih nikmat.
Nah, sobat Dliya, itu tadi gambaran meralat kebaikan untuk menjadi lebih baik. Ralat khan gak hanya tertuju pada yang salah-salah aja. Dan sobat Dliya mesti tahu, orang yang mau meralat dirinya dari yang salah untuk menjadi yang baik itu lebih mulia daripada orang baik yang tak pernah meralat amal baiknya. But, tentunya yang paling mulia adalah orang baik yang mau meralat amal baiknya. Ok!
Meralatlah Kisah Lalu, Menatap Langkah ke Depan
Sobat, perjalanan kita nuju akhirat itu panjang banget. Dan dalam jarak tempuh kehidupan yang nggak dekat ini, tentunya tapak perjalanan kisah hidup kita gak selalu lurus. Pasti ada aja deh salahnya, karena kita memang manusia biasa yang akrab dengan salah dan lupa.
But, kesalahan atau dosa-dosa yang telah lewat bukanlah untuk dilihat dan dibiarkan aja. Melainkan untuk dikoreksi dan diperbaiki buat bekal masa depan. Oleh karenanya, dalam surat al Hasyr; 18, Alloh Ta’ala berfirman yang artinya,: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Lalu, kita pun meski merenung, apakah kesalahan dan dosa yang selama ini dilakukan tidakkah cukup? Jangan-jangan dengan itu semua kita sudah layak dan sudah dapat karcis sebagai penghuni neraka? Na’udzu billah. Alloh khan juga berfirman dalam surat al Hadiid; 16 yang artinya,: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka)?” (Baca juga Misykat Anwariyyah; Tegakkanlah bukti kealpaan dan kelemahanmu).
Ini memang perlu banget, agar perjalanan hidup kita selanjutnya bisa lebih lurus dan bermakna. Dan tentunya itu semua buat bekal kita untuk mengarungi perjalanan menuju akhirat yang sangat panjang. Perjalanan panjang, pastinya butuh banyak bekal kan?
Akhirnya, yuk selalu meralat dan memperbaiki kisah lalu yang penuh coretan tak beraturan, tuk mengisi bekal buat menuju masa depan, di atas garis jalan yang lebih lurus. Moga kita selalu diberi taufik pada segala yang dicintai dan diridhoi Alloh dan Rosululloh dan dikaruniai akhir yang mewangi… syahid fi sabilih. Bijaahi Sayyidis Syuhada”, Sayyidina Muhammad bin ‘Abdillah (Den Diya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar