Inovasi Santri Ngelmu

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah walhamdulillah wassholatu wassalaamu 'ala rosulillah...
Kawan...jangan capek ya!
Wassalam...

Laman

Minggu, 12 Juli 2009

Renungan : curahan hati para semut

Oleh : Husein Hamid Khered

Sewaktu Haikal membuka bungkusan dari kertas koran dan minyak, yang berisi telur dadar goreng dan gorengan tempe yang dibelinya dari pasar. Diapun kaget puluhan ekor semut menyerubungi makanan tersebut. Dengan nada kesal dan berbicara pada diri sendiri, diapun membantai semut-semut tersebut. Memang mereka makhluk-makhluk ciptaan Allah yang tidak berdosa, tapi mengapa mereka memakan dan mencuri makanan milikku ? Pertanyaan tersebut terus melayang dalam pikirannya.Dengan terpaksa dan berat hati, dia harus membuang telur dadar goreng dan gorengan tempe kesukaannya. Padahal, tindakan tersebut termasuk perbuatan mubadzir, melakukan kemubadziran termasuk langkah setan dan dalam kategori saudara-saudara setan sebagaimana telah tertera dalam Al-Qur'an Al-karim. Selesai makan siang, Diapun berpikir dan merenungi kesalahannya, ada perasaan salah menyelimuti dirinya, dia telah melakukan dua kesalahan, yaitu : membunuh makhluk-makhluk Allah yang tidak berdosa dan melakuka kemubadziran. " Mengapa saya mengerjakan kesalahan-kesalahan ini ? ", Apakah karena godaan hawa Amarrah Bis-Suu' yang menyebabkan saya mengerjakan dua perbuatan dosa tersebut ? ", " Ya Allah, Dzat Maha pengampun , hambamu yang lemah ini telah berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri. Saya telah membunuh puluhan prajuritmu, Jundullah (Tentara-tentara Allah), Mereka selalu bertasbih dan berdzikir, mengingat kesucian nama-Mu, Sedangkan diriku selalu lalai dan terlarut dalam mengejar kesenangan duniawi yang hanya sementara dan tidak kekal. salah satu seekor semut menjalar pada bulu-bulu tangan-Ku, dia mencoba untuk menggigit dan melawan, seakan-akan dia berontak dan berteriak : "Mengapa engkau Manusia memebunuh sudara-saudara dan teman-temanku, Apakah karena engkau memiliki kekuatan dan tubuh yang besar dibandingkan kami, makhluk yang kecil dan lemah?" "Tidakkah engkau menyadari bahwa setiap perbautan ada hukum karma (Alam) dan akan dibalas oleh Allah, Tuhan sang pencipta? hatinya terasa bergetar meskipun kedua telinganya tidak mampu mendengarnya, tapi perasaan berdosa dan takut menyelimuti dirinya, Seakan-akan dia mendengar jeritan mereka " Apa yang harus kulakuakan untuk menebus dosa-dosa yang telah kerjakan ? ". "TAUBAT", kata ini memang mudah diucapkan di lidah, Namun sulit dipraktekkan dengan sungguh-sungguh. Haikalpun berusaha untuk menenangkan diri dalam dirinya, ada tekad untuk bertaubat dan semangat untuk tidak berputus asa karena rahmat Allah lebih luas daripada 'Adzabnya, Allah akan selalu membuka pintu taubat dan memberikan kesempatan bagi hamba-hamba-Nya selama nyawa belum sampai apad tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari Barat. Sekelompok semut berkumpul dan bergotong royong, mengumpulkan mayat-mayat teman-temanya. Ada sebuah tragedi kesedihan yang menyelimuti keadaan mereka. Haikalpun meras iba dan kasihan memandang bangkai-bangkai yang telah dibunuh dengan tangannya sendiri. "Ini disebabkan kearogansian dan kesombongan dalam diri manusia. Mereka meremehkan makhluk-makhluk kecil dan lemah, merusak tanaman-tanaman yang hidup dan tumbuh dengan subur, hanya demi memuaskan hawa nafsunya belaka, tidak mau melihat akibat yang akan terjadi setelahnya". Begitu kata kepala suku semut. Sedangkan seekor semut yang lain menimpali : "Ya, benar, lihatlah sekarang akibatnya, banyak bencana menimpa mereka, karena ulah tangan sebagian mereka." Kemudian seekor semut betina bergumam: " Tidakkah mereka mau menyadari ? " Sampai kapan mereka terus memburu dan membunuh kami, makhluk-makhluk yang tak berdosa? "Sampai kapan mereka terus membabat hutan, rumah kami?", padahal Allah telah memilih manusia sebagai khalifah di permukaan bumi. tapi Mnegpa sebagian mereka berlalku sewenang-wenang dalam mengelola bumi ini? ". Haikal mendengarkan pembicaraan mereka dengan hati dan perasaannya, meskipun kedua telinganya tak sanggup mendengarnya.waktu semakin larut, tak terasa gerimispun datang berkunjung, hujan semakin deras, perasaan nuraninya semakin pilu memikirkan curahan-curahan hati beberapa ekor semut. Kalaupun mereka diberi kesempatan dan hak untuk menggugat dan memprotes setiap tindakan kejahatan yang dilakukan oleh manusia-manusia, pasti mereka akan berteriak dan melakukan demo besar-besaran. tapi faktanya mereka hanyalah makhluk-makhluk kecil yang tak berdaya. siafat rakus dan tamak manusia menyebabkan semut-semut tersebut kehilangan temapt tinggal dan habitatnya. Semut-semut tersebut hanyalah serangga kecil yang berkaki dan makanan mereka hanyalah bahan-bahan mengandung glukosa (zat gula). Mereka termasuk kelompok makhluk yang memiliki ikatan sosial yang kuat dan mereka senang bersilatur-rahmi dan bekerjasama secara gotong-royong. Sedangkan kita manusia adalah mamalia (hewan menyusui) yang memakan segala yang ada (omnivora), cuman kita belum mampu makan besi tua, kalau besi tua dapat dimakan, pasti akan dilahap juga. Kita sering bermusuhan satu sama lainnya, rasa Silaturrahmi kita masih lebih rendah dibandingkan silaturrahmi para semut. Tidakkah kita malu apabila mau bercermin kepada makhluk kecil tersebut. " Pikiran-pikiran Hakal terus berputar dan merenungi ciptaan Allah bernama : "Semut". Sungguh sempurna ciptaan-Mu Ya Rabb", Tiada sesuatupun yang Engkau ciptakaa dengan sia-sia.

Tidak ada komentar: